Dec 13th 2023, 18:19, by Ahmad Muhajir, Ahmad Muhajir
Ilustrasi abuse of power. Foto: Unsplash
Manusia seharusnya mampu saling memahami satu sama lain karena tidak ada yang dapat hidup secara terpisah tanpa bantuan dari orang di sekitarnya. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Meskipun manusia memiliki sifat sosial, mereka seringkali terjerat dalam keinginan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar dalam kehidupan mereka.
Meskipun manusia adalah makhluk sosial, kecenderungan mereka terhadap ambisi memperoleh kekuasaan lebih besar dalam struktur masyarakat dan hubungan dengan pemimpinnya menjadi perhatian. Dalam konteks ini, kekuasaan yang dimaksud bukanlah dalam aspek linguistik, tetapi dalam dinamika interaksi sosial antara penguasa dan masyarakat. Pembentukan diskusi atau wacana menjadi arena di mana masyarakat dan penguasa bertemu.
Foucault pernah menekankan bahwa pembentukan wacana tidak terlepas dari kekuasaan, yang bukan hanya dimiliki individu tetapi juga dipraktikkan dalam ruang sosial. Dalam hal ini, wacana tidak hanya merupakan media komunikasi, tetapi juga merupakan alat yang mengorganisir perubahan sosial dan mengeklaim kebenaran dengan pengaruhnya terhadap institusi dan praktik sosial.
Klaim akan kebenaran ini adalah bentuk ekspresi dari kekuasaan sebagai wacana yang dapat mempengaruhi kesadaran orang serta mengarahkan mereka pada gagasan dan konsep tertentu. Wacana semacam ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan tindakan dan perilaku seseorang sesuai dengan kehendaknya (Foucault,2002). Dan pada akhirnya meletakkan dalih, bahwa kekuasaan adalah segala-galanya.
Relasi kuasa memainkan peran dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ideologi sampai pada dimensi fisik tubuh, yang pada akhirnya memengaruhi sikap dan pemikiran seseorang. Dinamika kekuasaan hadir dalam setiap tingkatan masyarakat, baik antara pemimpin dan warga, antara warga dengan individu, maupun antara individu satu dengan yang lain.
Ini berarti bahwa kekuasaan tidak terbatas pada struktur formal pemerintahan atau struktur kekuasaan yang jelas, tetapi juga memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia dalam konteks sosial yang lebih luas. Bahkan, pengaruh kekuasaan bisa ditemukan dalam hubungan sehari-hari antara individu, baik dalam interaksi personal maupun dalam dinamika sosial yang lebih besar.
Dalam praktik kekuasaan, resistensi atau perlawanan selalu hadir sebagai bagian tak terpisahkan. Foucault mengungkapkan bahwa resistensi tidak berada di luar relasi kekuasaan; setiap individu terlibat dalam dinamika kekuasaan tersebut tanpa ada kemungkinan untuk sepenuhnya keluar dari konteksnya.
Dalam konteks hubungan kekuasaan tertentu, keberadaan kekuasaan termanifestasi, namun selalu ada pihak yang menentang atau melawan bentuk kekuasaan tersebut. Dalam kerangka demokrasi yang sadar, hal ini dianggap sebagai bagian normal untuk menjadi bagian dari oposisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar