Oct 28th 2023, 04:23, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Seekor merpati terbang di atas puing-puing rumah yang hancur akibat serangan Israel, di Khan Younis di selatan Jalur Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS
Majelis Umum PBB menyerukan gencatan senjata kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (27/10). Mereka juga menuntut agar akses bantuan ke Jalur Gaza yang diblokade oleh Israel dibuka dan ada warga sipil di sana diberikan perlindungan.
Dilansir Reuters, resolusi yang dirancang oleh negara-negara Arab Saudi ini memang tidak mengikat, namun memiliki bobot politik. Apalagi melihat suhu politik global setelah Israel meningkatkan operasi darat di Gaza.
Keputusan ini didukung oleh 120 suara dalam rapat tersebut. Sementara itu, ada 45 suara abstain; dan 14 suara yang menolak, termasuk dari Israel dan Amerika Serikat.
Pemungutan suara ini dilakukan setelah Dewan Keamanan PBB dalam dua pekan terakhir gagal mengambil tindakan atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza. Agar resolusi ini bisa disahkan, perlu ada dua per tiga mayoritas suara setuju, dan abstain tak dihitung.
"Memberikan suara menentang resolusi ini berarti menyetujui perang yang tidak masuk akal ini, dan pembunuhan yang tidak masuk akal ini. Jutaan orang akan menyaksikan setiap pemungutan suara, sejarah yang akan menilai," tegas Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, jelang pemungutan suara.
Israel Kecam Resolusi PBB
Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan. Foto: Yuki IWAMURA / AFP
Dilansir AFP, resolusi dan desakan gencatan senjata kemanusiaan yang didesak oleh Majelis Umum PBB ini ditolak oleh Israel. mereka menilai desakan ini adalah bentuk "penghinaan" kepada mereka.
Israel yang marah dengan hasil rapat tersebut menyatakan akan tetap mempertahankan diri.
"Ini adalah hari yang kelam bagi PBB dan umat manusia," kata Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan.
Ia bersumpah negaranya akan menggunakan segala macam cara untuk memerangi Hamas.
"Hari ini adalah hari yang akan dianggap keburukan. Kita semua telah menyaksikan bahwa PBB tak lagi memiliki legitimasi atau relevansi sedikit pun," ungkapnya.
Israel selama ini mengeklaim serangan mereka ke Jalur Gaza dan Tepi Barat sebagai upaya memerangi Hamas dan membalas serangan Hamas pada 7 Oktober lalu. Namun sejak hari itu hingga 26 Oktober sore, di Jalur Gaza saja sudah ada 7.028 orang yang tercatat tewas.
Dari jumlah itu, sebanyak 2.913 merupakan anak-anak; dan 3.129 adalah perempuan. Selain itu masih ada 1.600 orang lainnya yang tertimbun di bawah puing-puing dan kemungkinan besar sudah tewas.
Serangan Israel juga menargetkan sejumlah rumah sakit hingga tempat beribadah, termasuk Gereja Santo Porfiri yang merupakan gereja Ortodoks tertua di Palestina dan tertua kedua di dunia. Israel juga memutus jalur pangan, listrik, air, hingga komunikasi seluruh warga Jalur Gaza yang mereka blokade.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar