Oct 28th 2023, 04:00, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Keluarga dan kerabat berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
Kementerian Kesehatan Palestina merilis 7.028 nama korban yang tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Daftar nama ini dirilis untuk menjawab ucapan Presiden AS, Joe Biden, yang mempertanyakan soal jumlah korban tewas akibat serangan yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 ini.
"Kami memutuskan untuk keluar dan mengumumkan daftar nama korban tewas, lengkap dengan rinciannya, di depan seluruh dunia. Ini adalah kebenaran tentang genosida yang telah dilakukan Israel terhadap rakyat kami," ucap juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina, Ashraf al-Qudra, dilansir Middle East Eye, Jumat (27/10).
Dalam laporan setebal 210 halaman itu, tertulis secara lengkap nama, usia, jenis kelamin, hingga nomor identitas setiap korban yang tewas terbunuh di Jalur Gaza. Laporan versi Bahasa Inggris akan segera diterbitkan dalam waktu dekat.
Dalam laporan itu, sejak 7 Oktober 2023 hingga 26 Oktober 2023 pukul 15.00 waktu setempat, tercatat ada 7.028 warga Palestina yang tewas, termasuk 2.913 anak-anak. Dari jumlah itu, 3.129 merupakan perempuan, 3.899 laki-laki.
Di luar jumlah itu, masih ada 218 korban tewas yang tak diketahui identitasnya. Jumlah ini masih terus bertambah.
Warga Palestina berkumpul di lokasi serangan Israel terhadap rumah-rumah, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, Kamis (26/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
7.028 korban tewas yang tercantum dalam laporan itu juga tak termasuk korban tewas yang terkubur tanpa sempat dibawa ke rumah sakit, yang tak bisa tercatat dalam prosedur registrasi rumah sakit, dan orang-orang yang hilang di bawah reruntuhan. Setidaknya ada sekitar 1.600 korban yang belum tercatat ini.
"Pemerintah AS tidak punya standar kemanusiaan, moral, dan nilai-nilai dasar hak asasi manusia karena tanpa malu-malu mempertanyakan validasi jumlah korban tewas di Palestina," tegas al-Qudra.
"Biarlah dunia tahu bahwa di balik setiap angka, ada kisah seseorang yang diketahui nama dan identitasnya. Masyarakat kami bukanlah siapa-siapa yang bisa diabaikan," lanjutnya.
Presiden AS Joe Biden berbicara selama perayaan Hari Kemerdekaan di South Lawn di Gedung Putih di Washington, AS, Selasa (4/7/2023). Foto: Julia Nikhinson/REUTERS
Sebelumnya, Joe Biden mengaku tak percaya dengan angka yang dirilis oleh otoritas di Jalur Gaza terkait korban jiwa akibat serangan Israel. Biden yang merupakan sekutu dekat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan ketidakpercayaannya itu dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, Rabu (25/10) lalu.
"Apa yang mereka katakan kepada saya adalah saya tidak percaya bahwa Palestina mengatakan yang sebenarnya tentang berapa banyak orang yang terbunuh. Saya yakin banyak orang tak berdosa yang terbunuh, dan itu adalah harga yang harus dibayar dalam sebuah peperangan," kata Biden kepada wartawan.
"Namun, saya tidak yakin dengan angka yang digunakan Palestina," tambah politikus berusia 80 tahun ini, tanpa mengatakan mengapa dia skeptis terhadap angka-angka yang diberikan Palestina.
Selain itu, Biden juga menyalahkan banyaknya jumlah korban jiwa di Jalur Gaza kepada Hamas. Sebab, menurut pemimpin dari Partai Demokrat itu, Hamas yang telah menggunakan warga sipil sebagai 'tameng'.
"Hamas bersembunyi di balik warga sipil Palestina — dan ini adalah tindakan yang tercela dan, tidak mengherankan, pengecut. Hal ini juga menambah beban bagi Israel ketika mereka mengejar Hamas," kecam Biden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar