Aug 4th 2023, 19:39, by Pandangan Jogja Com, Pandangan Jogja
Ini adalah artikel opini yang ditulis oleh: Sugeng Bahagijo, Direktur Rumah Politik Kesejahteraan
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berbincang dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad usai menggelar pertemuan di kawasan Widya Chandra, Jakarta, Minggu (9/7/2023). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Pemilihan Cawapres Prabowo haruslah mampu membangun kemenangan dan mendukung efektivitas pemerintahan di masa depan.
Pemilu 2024 semakin mendekat, dan sorotan publik semakin tertuju pada langkah-langkah strategis dari setiap calon presiden. Salah satu hal penting yang turut menjadi perbincangan adalah pemilihan calon wakil presiden (Cawapres) yang akan mendampingi calon presiden.
Dalam hal ini, Prabowo Subianto dari Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah membuka berbagai peluang dengan menggandeng Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Cak Imin.
Kendati demikian, pemilihan Cawapres tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia tidak hanya berdampak pada elektabilitas, tetapi juga membawa implikasi dalam tata kelola pemerintahan selama masa jabatan.
Sugeng Bahagijo, Direktur Rumah Politik Kesejahteraan
Politik, sebuah seni yang mempertimbangkan kemungkinan, mengajarkan bahwa tidak ada rumus pasti untuk meraih kemenangan dalam pemilu. Kreativitas dan kepekaan terhadap pergeseran opini publik menjadi kunci.
Sejarah politik membuktikan bahwa terkadang hasil yang diharapkan tidak selalu sesuai ekspektasi. Pemimpin besar seperti Winston Churchill yang memimpin Inggris melalui masa sulit Perang Dunia II, ternyata menghadapi kekalahan dalam pemilu. Bagaimanapun, menilai masa lalu hanya sebagai panduan semata tidaklah cukup. Perubahan dapat diwujudkan melalui pilihan dan tindakan manusia.
Dalam konteks Indonesia, pemilihan Cawapres memiliki dampak yang signifikan. Tidak hanya berdampak pada peta suara di berbagai wilayah, tetapi juga membawa implikasi politik dan sosial yang mendalam.
Dalam memilih Cawapres bagi Prabowo, beberapa kriteria perlu dipertimbangkan.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berbincang dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kiri) usai menggelar pertemuan di kawasan Widya Chandra, Jakarta, Minggu (9/7/2023). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Pertama, kemampuan menggalang sumberdaya dan sumberdana untuk kampanye dan pemenangan.
Kedua, tingkat ketenaran atau popularitas yang dapat menarik simpati pemilih.
Dan ketiga, kemampuan mendapatkan dukungan riil di lapangan, diwujudkan melalui mesin politik partai dan organisasi pendukung.
Namun, kesuksesan Cawapres tidak hanya ditentukan oleh popularitas semata. Konteks pemilu dan potensi pengaruh di berbagai wilayah juga turut memainkan peran krusial. Dalam hal ini, realisme politik menjadi panduan.
Melihat kasus Prabowo, sebagai calon yang bukan petahana, pemilihan Cawapres dapat menjadi faktor penentu kemenangan. Hal ini sejalan dengan pengalaman Prabowo yang sebelumnya pernah maju sebagai calon presiden pada tiga pemilu sebelumnya dan belum sukses.
Barack Obama dan Joe Biden Foto: Reuters/Kevin Lamarque
Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah politik luar negeri, seperti kemitraan Obama-Biden. Pemilihan Joe Biden sebagai Cawapres mendukung efektivitas pemerintahan Obama, dengan fokus pada konsultasi dan kesepakatan di Kongres dan Senat.
Dalam konteks ini, mempertimbangkan figur yang dapat membantu dalam tugas pemerintahan adalah langkah bijak. Membangun strategi untuk meraih kemenangan dan efektivitas pemerintahan adalah tujuan akhir dari seleksi Cawapres.
Dalam menghadapi pilihan Cawapres, Prabowo menghadapi sejumlah nama yang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Kolaborasi Menteri BUMN, Erick Thohir, dengan Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming, untuk revitalisasi studio rekaman Lokananta. Foto: Instagram/@erickthohir
Gibran Rakabuming, sebagai penerus Presiden Jokowi, memiliki popularitas yang kuat namun masih terbatas pada wilayah tertentu yakni hanya di sekitar Solo dan Jateng. Gibran akan meraup suara besar di seluruh Indonesia belum menjadi fakta. Hanya fakta Imajiner. Dengan singkat.
Erick Thohir, dengan prestasi dan sumberdaya yang melimpah, perlu memperkuat popularitasnya di beberapa wilayah. Tingkat popularitas ET di kantong kantong suara di Jatim atau Jateng masih terlalu rendah, kurang meyakinkan. ET diperkirakan hanya akan mampu menambah kurang dari 5 persen. Dengan singkat.
Khofifah Indarparawansa, Gubernur Jatim. Nama Khofifah muncul dari berbagai survei Cawapres. Khofifah adalah tokoh politik Jatim yang berasal dari NU. Kelemahan Khofifah adalah bukan orang partai. Orang partai bisa mengerahkan mesin organisasi dalam perebutan suara nyata di lapangan. Juga tidak memiliki modal besar untuk mendanai pengerahan tim jaringan untuk memilih.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) bersalaman dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar setibanya di kediaman Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (28/4/2023). Foto: Sigid Kurniawan/Antara Foto
Sementara Cak Imin atau Gus Imin, berpengalaman menjadi Menteri, Anggota DPR dan ketum Parpol. Gus Imin merupakan calon alamiah dan terbaik untuk bisa mendeliver suara tertinggi untuk PS.
Gus Imin juga menjadi satu satunya tokoh NU yang tertinggi tingkat elektabilitasnya. Wilayah Jatim dan Jateng menjadi lumbung suaranya. Leadership Gus Imin telah membawa PKB dalam rentang 4 kali pemilu/longitudinal menjadi kekuatan politik di jajaran menengah-atas. Gus Imin, dengan pengalaman panjangnya di parlemen akan sangat penting bagi Prabowo untuk mensukseskan periode kepemimpinannya.
Dalam menghadapi kerumitan ini, Prabowo perlu mengambil langkah yang bijaksana dan strategis. Pemilihan Cawapres haruslah mampu membangun kemenangan dan mendukung efektivitas pemerintahan di masa depan. Realisme politik menjadi tolok ukur dalam mempertimbangkan langkah ini.
Semua pilihan memiliki implikasi yang mendasar, baik terkait elektabilitas maupun kepemimpinan selama masa pemerintahan. Bagaimanapun, keputusan akhir Prabowo akan membentuk arah perjalanan politik Indonesia dalam tahun-tahun mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar