Jun 24th 2023, 02:18, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Ilustrasi tambang emas. Foto: TTstudio/Shutterstock
Ledakan gas metana terjadi di sebuah bekas situs tambang di Afrika Selatan yang sudah lama ditutup pada akhir Mei lalu. Dilansir Reuters, Departemen Energi Afrika Selatan menyebut setidaknya ada 31 orang penambang ilegal yang tewas akibat insiden ini. Para penambang ini diduga berasal dari negara tetangga mereka, Lesotho.
Tambang ini tadinya dioperasikan oleh Harmony Gold HARJ.J. Namun operasional tambang ini berhenti pada tahun 1990-an karena tingkat metana di tambang itu sangat tinggi dan pernah terjadi ledakan.
Karena potensi bahaya itu, juru bicara Menteri Pertambangan dan Energi Afrika Selatan, Gwede Mantashe, menyebut butuh waktu untuk bisa mengevakuasi para jenazah. Sebab pihak berwenang tak ingin mengambil risiko kehilangan lebih banyak nyawa.
"Saat ini terlalu berisiko untuk mengirimkan tim pencari ke sana. Namun kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi lain untuk mengatasi situasi ini dengan cepat," ucapnya.
Ilustrasi tambang emas. Foto: REUTERS/Kenny Katombe
Kepala hubungan investor Harmony Gold HARJ.J, Jared Coetzer, menjelaskan sebenarnya situs itu didapatkan oleh perusahaannya pada 1980-an silam. Namun situs itu harus ditutup tak lama kemudian karena ada ledakan gas metana.
"Kami tidak tahu bagaimana orang-orang itu (para korban) bisa sampai ke tempat ledakan itu terjadi," ucap Coetzer.
Metana adalah salah satu gas rumah kaca yang sangat eksplosif dan biasa ditemukan di tambang bawah tanah. Gas ini juga menjadi ancaman yang serius bagi keselamatan dan kesehatan para pekerja tambang.
Di Afrika Selatan, penambangan ilegal telah menjangkiti sejak beberapa dekade belakang. Para penambang liar itu bahkan sudah mengeruk pundi-pundi negara dan membentuk sebuah jaringan kejahatan yang terorganisir.
Salah satu kepala wilayah di distrik Berea, tempat sebagian besar korban berasal, mengaku berduka dengan insiden ini. Dalam kejadian ini, pria bernama Makhabane Peete itu bahkan kehilangan enam orang anak buahnya.
"Kami tidak ingin apa pun selain agar jenazah-jenazah itu diambil dan dipulangkan. Hanya itu yang kami minta," kata Peete.
Saat ini Afrika Selatan dan Lesotho masih berunding tentang bagaimana cara mengevakuasi para korban dan membawa jenazahnya pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar