Jan 3rd 2023, 15:15, by Aliyya Bunga, kumparanNEWS
Menteri Keamanan Nasional Israel yang baru, Itamar Ben Gvir, saat mengunjungi pasar Mahane Yehuda di Yerusalem pada 30 Desember 2022. Foto: Menahem Kahana/AFP
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunjungi kompleks suci Masjid Al-Aqsa Yerusalem, pada Selasa (3/1). Ini merupakan lawatan pertama tokoh Yahudi garis keras itu sejak menjabat sebagai menteri pada November 2022.
Kunjungan Ben-Gvir juga dilakukan hanya beberapa hari usai ia menduduki jabatan itu — yang memberikannya wewenang untuk menguasai aparat kepolisian Israel.
Kehadiran Ben-Gvir di kompleks Masjid Al-Aqsa memantik amarah warga Palestina, khususnya kelompok militan nasionalis Palestina penguasa Jalur Gaza, Hamas. Mereka memandang tindakan Israel sebagai langkah provokasi yang telah melanggar batas.
Namun, kecaman itu tidak dihiraukan oleh Ben-Gvir. "Pemerintah kami tidak akan menyerah pada ancaman Hamas," tuturnya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP.
Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur adalah tempat tersuci ketiga dalam Islam dan situs tersuci bagi kaum Yahudi di dunia, yang menyebut kompleks itu sebagai 'Temple Mount'. Situs suci ini kerap menjadi titik membaranya konflik antara aparat keamanan Israel dengan kelompok nasionalis Palestina.
Pasukan keamanan Israel bergerak saat bentrokan dengan pengunjuk rasa Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, Jumat (15/4/2022). Foto: Ammar Awad/REUTERS
Sejak lama, sebuah konvensi telah ditetapkan agar umat Yahudi hanya boleh mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa, namun dilarang berdoa atau beribadah di sana. Konvensi yang telah ada sejak 1967 ini disebut sebagai status quo Masjid Al-Aqsa.
Namun, seiring berjalannya waktu otoritas Israel acap kali melanggar komitmen tersebut. Muncul pula berbagai gerakan kebangkitan yang menentang larangan memasuki area Masjid Al-Aqsa, seperti Temple Mount Faithful dan Temple Institute.
Tindakan mereka semakin menjadi-jadi, lantaran dari pemerintah Israel pun tidak memberlakukan hukuman tegas bagi mereka yang melanggar.
Sehingga, tak hanya kaum Yahudi saja, tetapi pasukan keamanan Israel itu sendiri bertindak sewenang-wenang terhadap umat Muslim di Masjid Al-Aqsa.
Pasukan Pertahanan Israel (Israeli Defence Force/IDF) bahkan sempat menyerbu kawasan Masjid Al-Aqsa ketika umat Muslim sedang merayakan hari besar agama dan menunaikan ibadah Ramadhan pada 2022 lalu.
Kala itu, baku tembak dan bentrokan besar-besaran terjadi antara warga Palestina dengan IDF sehingga menelan puluhan korban jiwa dari berbagai usia.
Orang-orang berlarian ketika warga Palestina bentrok dengan pasukan Israel selama protes atas ketegangan di Masjid Al-Aqsa Yerusalem. Foto: Mohamad Torokman/REUTERS
Di bawah pemerintah Ben-Gvir dan pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, maka besar kemungkinan tindakan keras terhadap warga Palestina akan semakin menjadi-jadi.
Hal ini dimulai dengan melobi perombakan manajemen situs suci Masjid Al-Aqsa ketika Ben-Gvir baru mulai menjabat. Ia ingin agar pemerintah Israel mengizinkan umat Yahudi beribadah di sana — namun langkah ini ditentang oleh otoritas Rabi Yahudi.
Selain itu, Ben-Gvir juga telah mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa berkali-kali sejak mulai bergabung di parlemen Israel (Knessets), pada April 2021. Tetapi, kehadirannya untuk pertama kali di situs suci itu tentunya memberikan makna yang lebih koersif bagi warga Palestina.
Dalam kunjungannya itu pula, Ben-Gvir dilaporkan turut didampingi oleh beberapa unit IDF dan kehadiran drone di atas wilayah udara Masjid Al-Aqsa.
"Temple Mount adalah tempat yang paling penting bagi orang-orang Israel, dan kami menjaga kebebasan bergerak bagi umat Islam dan Kristen, tetapi orang Yahudi juga akan naik ke gunung, dan mereka yang membuat ancaman harus ditangani — dengan tangan besi," kata Ben-Gvir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar