Search This Blog

Nyamuk Terbukti Lebih Suka Darah Manusia Ketimbang Darah Hewan

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Nyamuk Terbukti Lebih Suka Darah Manusia Ketimbang Darah Hewan
Jan 18th 2026, 16:27 by kumparanSAINS

Nyamuk Aedes aegypti menghisap darah seseorang di laboratorium Pusat Studi Parasitologi dan Vektor (CEPAVE) lembaga penelitian ilmiah nasional CONICET, di La Plata, Provinsi Buenos Aires, Argentina, Selasa (26/3/2024). Foto: Luis Robayo/AFP
Nyamuk Aedes aegypti menghisap darah seseorang di laboratorium Pusat Studi Parasitologi dan Vektor (CEPAVE) lembaga penelitian ilmiah nasional CONICET, di La Plata, Provinsi Buenos Aires, Argentina, Selasa (26/3/2024). Foto: Luis Robayo/AFP

Nyamuk adalah serangga yang memakan apa saja. Mulai dari nektar tumbuhan, hingga darah ayam, tikus, buaya, katak, dan tentu saja darah manusia. Sebuah studi baru menemukan bahwa ketika manusia memasuki wilayah liar, nyamuk menempatkan selera khususnya terhadap darah manusia di atas semua sumber makanan lainnya.

Para peneliti di Brasil menganalisis sampel darah dari 145 nyamuk betina yang dikumpulkan di cagar alam di Hutan Atlantik, wilayah Brasil yang mengalami deforestasi parah. Beberapa spesies yang dikumpulkan menunjukkan "preferensi yang jelas untuk menghisap darah manusia," kata Jeronimo Alencar, seorang ahli biologi di Institut Oswaldo Cruz di Brasil dan salah satu penulis dalam penelitian terbaru.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Temuan ini sejalan dengan bukti sebelumnya bahwa penggundulan hutan membuat manusia lebih sering berinteraksi dengan nyamuk, makhluk yang menyebarkan penyakit mematikan. Nyamuk dapat menularkan Zika, demam berdarah, malaria, dan ensefalitis, yang semuanya berbahaya bagi kesehatan manusia dan dapat menyebabkan kematian.

Menurut para peneliti, Hutan Atlantik mendukung sekitar 270 spesies mamalia, 850 jenis burung, dan sekitar 570 reptil dan amfibi.

Ahli biologi Andreia Martins mengamati Golden Lion Tamarin di kawasan Hutan Atlantik Silva Jardim di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil. Foto: Pilar Olivares/Reuters
Ahli biologi Andreia Martins mengamati Golden Lion Tamarin di kawasan Hutan Atlantik Silva Jardim di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil. Foto: Pilar Olivares/Reuters

Hutan ini dulunya membentang seluas 1,3 juta kilometer persegi di Brasil—area yang lebih besar dari gabungan Texas dan California. Namun, luasnya telah menyusut menjadi kurang dari sepertiga ukuran semula akibat pengembangan kawasan pertanian dan perumahan.

Penelitian ini membantu para peneliti untuk lebih memahami hubungan kompleks antara deforestasi dan penyakit.

Manusia menghilangkan sekitar 10 juta hektar hutan per tahun. "Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati lokal, menyebabkan nyamuk, termasuk vektor agen patogen, menyebar dan mencari sumber makanan alternatif," tulis para penulis.

Sumber-sumber masalah penyakit itu tak lain adalah kita, manusia!

Media files:
01ht048dyh4ws9h3zq8jnqk2nd.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar