Marlina, Ibu Bhayangkari pemandu arah Helikopter di desa terisolir, Tapteng, Minggu (7/12/2025). Foto: Dok. Humas Polda Sumut
Di tengah kondisi darurat akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Tengah, seorang ibu Bhayangkari namanya Marlina Wiguna Lumban Tobing viral di media sosial.
Marlina memandu langsung pilot helikopter menuju Desa Bonandolok. Desa tersebut sebelumnya tidak terjangkau jalur darat.
Marlina menceritakan bagaimana bencana besar itu terjadi tiba-tiba. Saat itu, keluarga besarnya masih berduka karena empat anggota keluarga satu marga Tobing meninggal dunia akibat tertimbun longsor.
Namun Marlina, tetap menerima warga yang mengungsi ke rumahnya walaupun kondisi hati sedang berduka.
"Kami masih berencana melayat ketika tiba-tiba banjir dan longsor terjadi di mana-mana. Rumah kami tidak terkena air, jadi warga mengungsi ke rumah kami. Listrik mati, air hilang, jaringan putus total. Rasanya gelap sekali," kata Marlina dalam keterangannya, Minggu (7/12).
Jumat Pagi, Marlina bertemu warga dari kampungnya yang berjalan kaki selama 3-4 jam hanya untuk mendapatkan beras. Mereka menitipkan uang ke Marlina untuk membelikan beras agar dibawa pulang.
"Kami menangis semua ketika itu. Mereka benar-benar berjalan jauh hanya demi mencari beras. Saya antar dan saya doakan agar mereka tiba selamat ke kampung," ucap Marlina.
Marlina, Ibu Bhayangkari pemandu arah Helikopter di desa terisolir, Tapteng, Minggu (7/12/2025). Foto: Dok. Humas Polda Sumut
Kondisi semakin mengkhawatirkan, Marlina mengetahui rumah orang tuanya dan beberapa keluarganya sudah amblas terbawa longsor.
Kemudian Marlina bersama warga mencari jalur alternatif menuju Bukit Anugrah dan mulai menebas hutan secara manual.
Upaya membuka jalur berlangsung hingga larut malam. Dalam kondisi itu, Marlina dan warga kehabisan baterai ponsel hingga suasana gelap tanpa penerangan. Lalu Marlina menuju Gedung Olahraga untuk mengisi daya telepon.
Dalam kondisi tersebut, Marlina bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara dan Wakil Bupati. Karena Marlina mengetahui kondisi dan titik yang terdampak, Gubernur Sumut kemudian mengajaknya dalam penerbangan untuk survei lokasi.
"Dari atas terlihat seperti tidak ada penghuni, padahal warga sudah menyebar mencari tempat aman," ujar Marlina.
Selasa siang, Marlina bersama pihak Lanud melakukan koordinasi dan menemukan titik pendaratan. Helikopter menembus kabut dan darurat mendarat di wilayah terbuka yang dipandu Marlina.
"Ketika saya turun dan melihat keluarga, kami langsung berpelukan. Itu hanya detik, tapi rasanya seperti selamanya," imbuh Marlina.
Karena Marlina, desa yang tidak bisa tersalurkan logistiknya melalui darat akhirnya mendapatkan bantuan dan diterima warga. Bantuan itu menjadi harapan pertama bagi warga desa yang terisolir.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan memberikan apresiasi atas keberanian Marlina.
"Bu Marlina menunjukkan bahwa Bhayangkari tidak hanya mendampingi suami, tetapi juga hadir sebagai garda kemanusiaan. Keberaniannya membuka jalan komunikasi dan akses bantuan sangat berarti bagi keselamatan warga di wilayah terisolir," pungkas Ferry.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar