Search This Blog

Sisi Lain Jakarta: Masih Ada Peternakan Sapi Tradisional di Balik Beton-beton

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sisi Lain Jakarta: Masih Ada Peternakan Sapi Tradisional di Balik Beton-beton
Nov 23rd 2025, 15:38 by kumparanNEWS

Peternakan sapi yang berada di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
Peternakan sapi yang berada di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Di balik bayangan gedung-gedung tinggi dan deru kemacetan ibu kota, terselip sebuah kehidupan yang kontras dengan wajah metropolitan Jakarta.

Di tengah himpitan permukiman padat, puluhan sapi berderet tenang di kandangnya, mengunyah rumput seolah tak terganggu oleh ritme kota yang serba cepat.

Lokasi peternakan sapi yang kumparan temui berada di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Letaknya diapit oleh permukiman warga dan gedung-gedung. Nama peternakan ini adalah 'Peternakan Sapi Dua Empat'.

Seorang pengurus peternakan tersebut, mengungkapkan kalau peternakan yang luasnya sekitar 200 meter persegi itu sudah berdiri sejak lama. Bahkan, sebelum ada rumah-rumah warga.

"Kayaknya tuaan peternakan sama saya dah. Saya aja ke sini dari umur 17 tahun tuh udah berdiri begini," ujarnya mengenang masa lalu. Saat ini, pengurus peternakan itu berusia 45 tahun.

"Masih duluan kandang ya. Udah lama," sambungnya.

Peternakan sapi yang berada di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
Peternakan sapi yang berada di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Artinya, peternakan sapi itu sudah hampir tiga dekade beroperasi di kawasan Jaksel itu.

Di dalamnya terdapat sekitar 60 ekor sapi yang sedang dalam masa penggemukan untuk siap dijual pada musim lebaran haji atau Idul Adha.

Tantangan Peternakan di Tengah Kota

Menjalankan peternakan di tengah kota Jakarta yang padat penduduk tentu bukan perkara mudah. Kebersihan dan aroma tak sedap kerap menjadi momok yang memicu konflik sosial.

Jarak antara kandang dengan permukiman memang hanya dibatasi oleh tembok semen. Namun hingga bertahun-tahun beroperasi tak pernah ada warga yang komplain ihwal bau tak sedap.

Pabrik tahu yang berada di dalam peternakan sapi di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
Pabrik tahu yang berada di dalam peternakan sapi di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (23/11/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Ternyata, kuncinya agar tak menimbulkan aroma menyengat adalah terletak pada manajemen limbah yang lebih ketat. Di sini, sapi-sapi dimandikan rutin, dan kotoran tidak dibiarkan menumpuk sedikitpun.

"He'eh kalau kotoran langsung sekali cair. Jadi setiap hari bersihin, mandi aja kan dua kali sehari," jelasnya.

Manfaatkan Ampas Tahu Jadi Pakan

Selain manajemen kebersihan, efisiensi pakan menjadi kunci peternakan sapi bertahan di tengah gempuran industri urban. Sebab, tak mudah mencari rumput di Jakarta yang lahannya sudah penuh aspal dan gedung-gedung pencakar langit.

Seorang pengurus peternakan sapi sedang membawa pakan di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (23/11/2024). Foto: Luthfi Humam/kumparan
Seorang pengurus peternakan sapi sedang membawa pakan di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (23/11/2024). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Peternakan ini menerapkan sistem simbiosis yang cerdik dengan pabrik tahu yang berlokasi tepat di belakang kandang.

"Pabrik tahunya ini. Itu sama punya juragan juga. Jadi ampasnya enggak ke mana-mana buat makan sapi," ungkapnya.

Limbah tahu disulap menjadi pakan bergizi, dicampur dengan kulit jagung dan kulit kacang. Meski begitu, biaya operasional tetap diperhitungkan dengan matang. "Kalau berbentuk duit ya sekitar 20 ribu lah satu ekor (sapi)," tambahnya.

Media files:
01kaqq7tn1jwsp86m0q9k3gxxj.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar