Hajon Mahdy Mahmudin, Founder dan CEO Qara'a. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak
Hi!Pontianak - Kota Pontianak tak pernah kehabisan anak-anak berbakat untuk memajukan daerah dan negaranya, salah satunya termasuk dalam dunia teknologi dan pendidikan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Hajon Mahdy Mahmudin, warga asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang memiliki fokus utama untuk memajukan dunia pendidikan agama dengan berbasis teknologi, khususnya melalui penggunaan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI).
Berdasarkan data riset, hasil penelitian dari Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta (2024) mengungkapkan bahwa angka buta huruf Alquran di Indonesia mencapai 72,25 persen. Hal ini menjadi pendorong utama bagi Hajon untuk bertindak dalam pengentasan buta huruf Alquran dengan memanfaatkan teknologi AI melalui aplikasi Qara'a—platform online pembelajaran Alquran berbasis AI pertama di Indonesia sejak tahun 2018.
"Kita pengin bikin teknologi, bagaimana caranya supaya masalah tersebut bisa kita pecahkan lewat teknologi Artificial Intelligence (AI). Jadi, Qara'a sendiri sejak 2018, kita riset teknologi berdasarkan AI untuk membantu orang bisa belajar Alquran dengan lebih mudah dan menyenangkan," kata Hajon, Founder dan CEO Qara'a.
Penggunaan aplikasi Qara'a. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak
Hajon menyampaikan, Qara'a hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan teknologi, gamifikasi, dan pembelajaran adaptif yang bisa diakses siapa pun dan kapan pun. Tingkat akurasi fitur AI yang digunakan juga mencapai angka 98,2 persen, didukung oleh berbagai jenis sample suara dengan beragam bahasa dan logat yang telah diklasifikasikan sehingga bisa terdeteksi saat dikoreksi.
"Berdasarkan hasil dari AI-nya Qara'a, saat ini Qara'a itu efektivitas dan validitasnya sudah 98,2 persen. Kita sudah punya 60 juta sampling suara," ujarnya.
Sampai saat ini, Qara'a telah mencapai lebih dari 2 juta pengguna terdaftar dan 700 ribu pengguna aktif bulanan (MAU) di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan India. Kolaborasi Qara'a dengan lembaga pendidikan, madrasah, dan instansi pemerintah menjadi bagian dari upaya untuk memperluas akses literasi Alquran di seluruh penjuru Nusantara, bahkan hingga ke seluruh dunia.
Setelah tujuh tahun berjalan, kali ini, Qara'a memberikan kesempatan berupa beasiswa sebagai bentuk apresiasi kepada para murid madrasah di Kalimantan Barat yang berhasil menyelesaikan misi belajar Alquran selama tiga bulan melalui aplikasi Qara'a.
Pemberian beasiswa bertajuk 'Qara'a Scholarship Award' sukses berlangsung di Hotel Maestro Pontianak pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Wali Kota Pontianak, para kepala madrasah, orang tua siswa, serta para pelajar penerima beasiswa.
Pemberian beasiswa senilai Rp 1 juta untuk setiap penerima di Hotel Maestro Pontianak. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak
"Melalui beasiswa ini, kami ingin memberikan motivasi kepada para pelajar untuk terus mencintai Alquran sekaligus menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini bukan sekadar penghargaan bagi siswa berprestasi, tetapi langkah nyata dalam misi kami mengentaskan buta aksara Qur'an di Indonesia," jelas Hajon.
Kehadiran kepala madrasah, guru, orang tua, dan siswa menambah khidmat suasana acara. Para penerima beasiswa mendapatkan uang tunai pendidikan sebesar Rp 1 juta untuk masing-masing individu, serta akses premium aplikasi Qara'a untuk melanjutkan pembelajaran mereka secara mandiri.
"Harapan kami, dari Kalimantan Barat akan lahir generasi Qurani yang bukan hanya fasih membaca Alquran, tetapi juga berakhlak mulia dan melek teknologi," terangnya.
Hajon, warga asal Pontianak selaku Founder Qara'a saat diwawancarai. Foto: Alycia Tracy Nabila/Hi!Pontianak
Kiki Supardi, Pimpinan Masjid Ismuhu Yahya, turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran aplikasi Qara'a yang merupakan karya anak lokal. Ia berharap agar Qara'a tidak hanya sebagai ekosistem belajar Alquran secara digital, tetapi juga dapat naik level menjadi wadah untuk bersedekah, pemberian rekomendasi makanan halal, dan sebagainya.
"Dengan adanya Qara'a, mereka bisa belajar secara mandiri dan dari sini juga kami optimis bahwa pemberantasan buta huruf Alquran bisa kita tekan," ungkap Kiki.
Sebagai informasi, Qara'a merupakan aplikasi belajar Alquran berbasis AI pertama di Indonesia yang membantu pengguna dalam memperbaiki bacaan secara otomatis dengan menggunakan teknologi speech recognition. Fitur ini mampu mendeteksi kesalahan makhraj dan tajwid sekaligus menyesuaikan materi pembelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing pengguna.
Untuk inovasi ke depannya, Hajon mengungkapkan bahwa Qara'a sedang melakukan riset agar fiturnya bisa mengoreksi pelafalan hingga tahap tajwid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar