OJK gelar puncak bulan inklusi keuangan di Surabaya. Foto: Dok. OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia saat ini mencapai 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan berada di angka 80,50 persen.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan, tetapi masih menyisakan pekerjaan besar untuk mencapai target nasional inklusi keuangan 98 persen pada 2045.
"Kalau kita melihat survei nasional literasi dan inklusi keuangan, saat ini kita sudah mencapai literasi 66,46 persen dan inklusi sudah 80,50 persen, sedangkan inklusi secara lebih luas bahkan sudah mencapai angka yang sangat baik yaitu 92 persen," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, di Surabaya, dikutip pada Sabtu (25/10).
Friderica menilai peningkatan literasi dan inklusi keuangan bukan sekadar target angka, tetapi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kita tidak boleh berpuas karena kita targetnya adalah 98 persen artinya hampir semua masyarakat Indonesia akan terinklusi keuangan bahkan bahwa Bapak Presiden mencanangkan seluruh masyarakat Indonesia sudah terinklusi secara keuangan yaitu memiliki rekening di bank. Semoga ini kita wujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama," jelas Friderica yang akrab disapa Kiki.
Dalam upaya memperluas akses keuangan, OJK juga menegaskan prinsip "no one left behind," yaitu tidak ada masyarakat yang tertinggal dari layanan keuangan formal.
Edukasi Keuangan saat Bulan Inklusi Keuangan
Kiki mengungkapkan selama Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025, kegiatan inklusi dilakukan di 37 kantor OJK di seluruh Indonesia. Hingga puncak acara tahun ini, OJK mencatat 5.182 kegiatan dengan total 10,87 juta peserta, meningkat 67,87 persen dibanding tahun lalu.
Sejumlah capaian juga berhasil dicatat sepanjang periode tersebut, antara lain pembukaan 3,55 juta rekening bank baru tercatat naik 0,27 persen dibanding tahun lalu, 643.000 rekening investasi baru di pasar modal naik 310 persen, serta 951.000 polis asuransi baru naik hampir 30 persen.
Selain itu, ada pembukaan 1,47 juta rekening perusahaan pembiayaan baru, 5 juta rekening pergadaian baru (naik 45 persen), dan 720.000 akun fintech baru.
"Capaian yang luar biasa tersebut tentu harus selalu kita syukuri dan semakin menyemangati kita untuk terus berkarya ke depan," ungkap Kiki.
Kiki menuturkan peningkatan akses keuangan harus tetap dilakukan secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan profil risiko konsumen dan perlindungan masyarakat.
"Melalui arahan dari Pak Ketua, kita juga selalu menyampaikan inklusi keuangan yang bertanggung jawab. Artinya, kita selalu memberikan produk yang sesuai dengan profil risiko dari calon konsumen tersebut dan kita memastikan perlindungan konsumen kepada seluruh masyarakat Indonesia," tutur Kiki.
Alasan OJK Pilih Surabaya untuk Gelaran Puncak BIK 2025
OJK gelar puncak bulan inklusi keuangan di Surabaya. Foto: Dok. OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memilih Surabaya, Jawa Timur, sebagai lokasi puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025 yaitu dengan menggelar Financial Expo (FinExpo) 2025 di Tunjungan Plaza, Surabaya, pada 23-26 Oktober 2025.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan Jawa Timur memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, sehingga menjadi tempat yang tepat untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Meski demikian, Mahendra menegaskan gelaran BIK selalu dilakukan bergilir di berbagai daerah, baik di dalam maupun luar Pulau Jawa. Tahun ini, Jawa Timur dipilih karena kontribusinya yang signifikan sebagai lokomotif ekonomi nasional, terutama bagi wilayah Indonesia tengah dan timur.
"Surabaya dan khususnya Jawa Timur secara umum ini juga kita melihat bahwa apa yang diperankan secara strategis dari Jawa Timur untuk menjadi lokomotif bukan saja untuk provinsi dan kabupaten kota yang ada di Jawa Timur tapi juga dari suatu gerbong besar perekonomian nasional ya," kata Mahendra di Surabaya, dikutip pada Sabtu (25/10).
Dia menjelaskan agenda inklusi keuangan kini tidak hanya berfokus pada perluasan akses, tetapi juga peningkatan utilisasi produk keuangan oleh masyarakat yang sudah memiliki tabungan maupun akses layanan keuangan lainnya.
"Selain tentunya pencapaian literasi dan inklusi yang makin dekat dengan target adalah pemanfaatannya, adalah utilisasinya, harus ditingkatkan," ujar Mahendra.
Mahendra menilai Jawa Timur memiliki kondisi ekonomi yang telah lebih matang, sehingga utilisasi layanan keuangan dapat berkembang lebih cepat dan berdampak luas.
Senada dengan Mahendra, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan kekuatan ekonomi Jawa Timur yang mendasari terpilihnya Surabaya sebagai tuan rumah puncak BIK 2025.
"Kontribusi (Jawa Timur) terhadap PDB secara nasional 14,44 persen. Kontribusi kalau se-Jawa 25,36 persen," ucap Khofifah dalam kesempatan yang sama.
Dia merinci, Jawa Timur memiliki penduduk mencapai 42 juta jiwa, memiliki jumlah kabupaten/kota terbanyak se-Indonesia yaitu 38, dengan 8.494 desa dan kelurahan. Selain itu, dari 39 jalur tol laut, 21 di antaranya melalui Jawa Timur, terutama Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
"Kontribusi UMKM di Jawa Timur ini 60,08 persen sehingga pembiayaan yang mudah dan aman serta terjangkau itu menjadi bagian yang sangat penting. Tentu support OJK di sini menjadi sangat signifikan," tutur Khofifah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar