Search This Blog

Menggapai Bahagia, Menemukan Cukup

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menggapai Bahagia, Menemukan Cukup
Oct 8th 2025, 07:00 by Asyraf Alharaer Assegaf

Ilustrasi melakukan self care dengan berbagai produk kecantikan seperti skin care atau make up. Foto: aslysun/Shuttterstock
Ilustrasi melakukan self care dengan berbagai produk kecantikan seperti skin care atau make up. Foto: aslysun/Shuttterstock

Arti kebahagiaan itu apa? Atau kapan kita akan bahagia?

Pertanyaan ini sering muncul di kepala orang-orang yang merasa kurang percaya diri dan meragukan kemampuan yang sebenarnya mereka miliki.

Insecure? Mungkin iya. Rasa itu menimbulkan cemas yang perlahan menahan langkah kita untuk berkembang. Kita terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain, bahkan menjadikannya obsesi untuk selalu menyenangkan mereka—hingga lupa memeluk diri sendiri.

Kadang, pertanyaan tentang bahagia terasa seperti hujan sore yang turun tiba-tiba, tak diminta. Atau barangkali seperti secangkir kopi yang menunggu diseduh sendiri di tepi jendela kala hujan. Pertanyaan itu berputar-putar, seperti drama di layar kaca: penuh bintang, tapi hampa.

Namun, di balik romantisme hujan dan kopi itu, kenyataan berbicara lain.

Foto oleh Ahmed Zayan di Unsplash
Foto oleh Ahmed Zayan di Unsplash

Kita sering membaca kabar orang-orang yang mengakhiri hidupnya, merasa dunia terlalu berat, atau melihat mereka yang tampak tertawa, tetapi lupa merawat jiwa.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi tertinggi. Ironisnya, hanya 10,4% yang mencari pengobatan meski sekitar 2% di antaranya mengalami depresi berat menurut penelitian lain. Angka-angka ini menyoroti tantangan serius soal kesehatan mental dan rendahnya akses terhadap pengobatan yang memadai.

Dari situ kita belajar: kebahagiaan tidak jatuh dari langit, ia harus diracik melalui kesadaran.

Di sisi lain, banyak yang percaya bahagia akan datang dengan sendirinya jika kita mencapai standar yang ditetapkan orang lain—punya pasangan harmonis, rumah sendiri, karier gemilang. Namun, kenyataan sendiri kerap menunjukkan, bahkan ketika semua itu tercapai, hati tetap merasa kosong. Lalu, mengapa?

Di situlah paradoksnya: semakin dikejar kebahagiaan itu, ia justru makin jauh.

Ilustrasi anak muda yang bahagia karena bisa wujudkan mimpinya. Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak muda yang bahagia karena bisa wujudkan mimpinya. Foto: Shutterstock

Dalam buku Tuhan, Maaf Aku Kurang Bersyukur tertulis, "Kita sering mencari bahagia ke luar, padahal hati yang tak belajar bersyukur akan selalu merasa kurang."

Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang yang melatih hati berhenti berlari mengejar yang belum ada, dan belajar memeluk yang sudah dimiliki. Ia menjadi bahan dasar untuk meracik bahagia.

Bahagia itu ibarat kopi pilihan—harum, tetapi perlu proses: memilih biji, menakar, menyeduh. Ada pahit yang harus diterima, ada panas yang harus ditunggu hingga dingin.

Hidup pun begitu, ada luka, kecewa, dan kehilangan adalah bagian dari racikan yang tak terhindarkan.

Namun, di era pesatnya teknologi, kita sering terjebak dalam perang perbandingan.

Ilustrasi bahagia Foto: Shutter Stock
Ilustrasi bahagia Foto: Shutter Stock

Layar media sosial menampilkan fragmen terbaik dari hidup orang lain, tampak bahagia, lebih sukses, lebih dicintai. Padahal itu hanya potongan momen yang dipilih dengan cermat. Psikologi menyebutnya jebakan perbandingan—yang kerap memperbesar rasa tidak puas dan membuat kita lupa pada hal-hal yang seharusnya disyukuri. Tak heran, banyak orang merasa gagal meski sejatinya tidak kalah.

Meracik bahagia berarti juga berani menutup pintu bagi racun digital yang menyesakkan dada. Itu berarti mengurangi kebiasaan membandingkan diri dan mulai menghargai proses sendiri.

Bahagia yang lahir dari hati yang damai tidak bisa disuap oleh algoritma atau tren sesaat. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana—dari cara kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain.

"Kita lupa bahwa kesedihan yang diizinkan menetap akan menutup jalan masuknya kebahagiaan." -Buku Tuhan, Maaf Aku Kurang Bersyukur.

Kutipan ini mengingatkan kita: meracik bahagia tidak berarti menolak kesedihan, tetapi tidak membiarkannya menguasai seluruh ruang hidup. Kita perlu mengakui luka, memeluknya, lalu perlahan meramu pelajaran darinya.

Ilustrasi foto refleksi. Foto: Priyank Dhami/Shutterstock
Ilustrasi foto refleksi. Foto: Priyank Dhami/Shutterstock

Kisah depresi dan rasa hampa yang dialami banyak orang menegaskan bahwa kesehatan mental bukan isu pinggiran. Kita perlu berhenti menstigma orang yang mencari bantuan profesional atau berbagi tentang rasa sedihnya.

Bagian dari resep bahagia adalah berani meminta pertolongan ketika beban terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan perlombaan antarmanusia. Ia adalah perjalanan personal yang disusun dari nilai, syukur, dan cinta.

Resepnya boleh berbeda-beda, tetapi bahan dasarnya sama: menerima hidup apa adanya dan menyadari bahwa kesederhanaan pun dapat membawa rasa cukup.

Jadi, sebelum kita bertanya mengapa bahagia tak kunjung datang, barangkali kita perlu berefleksi: Sudahkah kita belajar meraciknya?

Media files:
01hhpgbm64789j4d1wzfswycje.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar