Warga Palestina berjalan di antara reruntuhan bangunan di Jalur Gaza. Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Forced_Displacement_of_Gaza_Strip_Residents_During_the_Gaza-Israel_War_23-25.jpg
Gencatan senjata Palestina kembali menjadi sorotan dunia. Setelah lebih dari dua tahun konflik, Israel dan Hamas akhirnya menandatangani perjanjian gencatan senjata yang disepakati di Mesir tanggal 10 Oktober 2025. Perjanjian yang dimediasi oleh Amerika serikat, Mesir dan Qatar menjadi isu utama di berbagai media global. Headline seperti "Hope for Peace", "A New Chapter for Gaza", ataupun "Finally, Sale After the Storm" terpampang di mana-mana.
Namun pada realitanya, di Gaza dan wilayah Tepi Barat, tidak ada keheningan yang benar-benar berarti. Yang tersisa justru suara mesin berat yang menggali reruntuhan, listrik yang padam, dan keluarga yang masih mencari nama-nama di daftar korban. Damai yang dilaporkan media hanyalah fatamorgana; bayangan yang terlihat di layar, tetapi tidak terasa di tanah yang retak akibat perang. Gencatan senjata ini lebih tampak sebagai upaya untuk menenangkan opini global ketimbang penyembuhan luka kemanusiaan.
Framing Media Barat terhadap Gencatan Senjata Palestina
Dalam studi komunikasi global, Framing Theory (Entman,1993) menjelaskan bahwa media tidak hanya menggambarkan sebuah kejadian, tetapi juga membentuk arti dari kejadian tersebut. Media memilih apa yang menjadi perhatian, siapa yang diberi suara, dan bagaimana cerita diuraikan: dari sinilah persepsi masyarakat global terbentuk.
Seorang warga Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel menyapa keluarganya saat tiba di luar rumah sakit Nasser, Khan Younis, Jalur Gaza, Senin (13/10/2025). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS
Dalam konteks perang yang terjadi di Gaza, framing media barat terasa begitu jelas. Contohnya CNN, BBC, dan The New York Times menggambarkan Israel sebagai pihak yang "membela diri", sementara warga Palestina digambarkan sebagai "korban konflik", bukan korban agresi.
Analisis Al Jazeera Institute (2004) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen sumber berita di media Amerika Serikat dan Inggris berasal dari pejabat Israel atau Amerika Serikat, sementara suara warga Gaza hanya muncul sedikit dan sering kali tanpa penjelasan konteks. Narasi yang terbentuk adalah perang antara dua pihak yang setara, bukan akibat dari pendudukan dan blokade yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Frame ini juga bisa dilihat dari bahasa dan pemilihan kata yang digunakan. Ketika bom jatuh di Gaza, berita di Barat sering menyebutnya sebagai "clashes" atau "retaliation". Namun, ketika roket milik Hamas ditembakkan, mereka menggunakan kata "attack" atau "assault". Padahal, kata-kata tersebut bukan hanya perkataan biasa, tetapi berpengaruh terhadap perasaan masyarakat dan menentukan siapa yang terlihat lebih berempati dan manusiawi.
Kebenaran yang Disaring dalam Gencatan Senjata Palestina
Warga Palestina merayakan gancatan senjata fase pertama Israel dan Hamas di Khan Younis, Jalur Gaza, Kamis (9/10/2025). Foto: Ramadan Abed/REUTERS
Framing seperti ini bukan hanya sebuah kebetulan. Hal ini muncul dari ekosistem media yang berjalan di bawah tekanan ekonomi dan politik. Laporan The Intercept tahun 2024 mengungkap memo internal The New York Times yang meminta para jurnalis untuk menghindari kata kata seperti "genocide" atau "massacre" dalam meliput situasi di Gaza, demi menjaga objektivitas.
Namun, sikap "netral" yang diusung justru membuat realitas tertutupi. Saat fakta tentang ratusan ribu korban sipil disaring, publik hanya melihat versi perang yang sudah disterilkan; yang aman bagi pembaca di Barat, tapi menyakitkan bagi warga Gaza yang kehilangan segalanya.
Temuan serupa juga diungkapkan oleh FAIR (Fairness & Accuracy in Reporting, 2024). Reuters dan Associated Press—dua perusahaan media terbesar di dunia—cenderung lebih sering menggunakan kata "response" daripada "aggression" ketika menyebut serangan Israel. Dengan cara penyajian seperti ini, tindak kekerasan negara dianggap sebagai bentuk pertahanan diri dan korban diubah menjadi data statistik.
Di sisi lain, media dari Global South berusaha menentang dominasi narasi yang ada. Al Jazeera, Middle East Eye, dan Anadolu Agency memilih menyoroti sisi kemanusiaan, seperti rumah sakit yang rusak, anak-anak yang kehilangan keluarga, serta blokade yang menghambat kehidupan.
Dalam artikelnya yang berjudul "Western Coverage of Israel's War on Gaza-Bias or Unprofessionalism" (2003), Al Jazeera secara terbuka mengkritik cara media barat menghilangkan konteks pendudukan dan mengganti kata "invasion" (penjajahan) dengan "conflict" (konflik). Di tengah dominasi media global, ini adalah bentuk counter-framing, upaya untuk menyeimbangkan narasi dunia agar Gaza bukan hanya menjadi berita, melainkan juga suara kemanusiaan.
Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peran penting sebagai bagian penting dari Global South. Tidak hanya melalui diplomasi politik, tetapi juga melalui diplomasi moral dan informasi. Indonesia bisa memperkuat cerita alternatif yang berpusat pada nilai kemanusiaan, bukan pada kekuasaan, baik melalui dukungan terhadap media independen, jurnalisme kemanusiaan, maupun kerja sama antarwilayah seperti ASEAN dan AHA Centre.
Bendera negara-negara ASEAN. Foto: dok. Kemenkeu
Cara ini tidak hanya sekadar membentuk pertimbangan politik, tetapi juga usaha untuk menjaga keseimbangan informasi global agar isu Palestina tidak hanya menjadi angka di statistik, tetapi juga terasa dalam kesadaran masyarakat dunia.
Perang di Gaza mengingatkan kita bahwa konflik sekarang bukan hanya tentang senjata, melainkan juga tentang cerita: siapa yang dianggap korban, siapa yang dianggap ancaman, dan siapa yang diberi kesempatan untuk berbicara. Media menjadi tempat perjuangan untuk menentukan makna di mana kebenaran sering kali dipengaruhi oleh kepentingan.
Gencatan senjata seharusnya menjadi awal untuk berpikir ulang, bukan akhir dari kisah, karena perdamaian sejati tidak ditentukan oleh diamnya berita, tetapi oleh adilnya kehidupan. Selama dunia masih dibentuk oleh kekuasaan, kita akan terus merayakan "damai" di atas sisa-sisa luka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar