Angin kencang berembus dari pegunungan Albania, meniup sampah plastik dari tempat pembuangan sampah terbuka hingga beterbangan ke Sungai Vjosa yang mengalir deras, selain itu bau tidak sedap juga mengganggu di wilayah sekitar. Foto: REUTERS/Florion GogaBanyak sampah plastik yang masuk dalam sungai Vjosa dan mengalir hingga ke laut. Tak jauh dari situ, sebuah pipa besar menyemburkan limbah cair langsung ke sungai, menambah warna keruh pada aliran yang dulu jernih. Foto: REUTERS/Florion GogaDi sisi lain, deru alat berat terdengar ketika para penggali mengeruk kerikil dari dasar sungai untuk membuat beton, aktivitas yang menurut para ahli perlahan mengubah jalur alami sungai dan membuat tepiannya menjadi rapuh. Foto: REUTERS/Florion GogaBaru-baru ini UNESCO telah menetapkan lembah Vjosa di Albania sebagai salah satu dari 26 Cagar Biosfer baru dunia, sebagai bagian dari upaya global melindungi ekosistem paling kaya dan rapuh di bumi. Foto: REUTERS/Florion GogaUNESCO pun menyadari tantangan itu. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menegaskan bahwa penetapan situs biosfer bukan berarti masalah sudah berakhir, melainkan komitmen suatu negara untuk memperbaikinya. Jika muncul persoalan, tim ahli UNESCO akan berkoordinasi langsung dengan pemerintah setempat untuk memverifikasi dan memberikan solusi. Foto: REUTERS/Florion Goga
Angin kencang berembus dari pegunungan Albania, meniup sampah plastik dari tempat pembuangan sampah terbuka hingga beterbangan ke Sungai Vjosa yang mengalir deras. Selain itu bau tidak sedap juga mengganggu di wilayah sekitar.
Banyak sampah plastik yang masuk dalam sungai Vjosa dan mengalir hingga ke laut. Tak jauh dari situ, sebuah pipa besar menyemburkan limbah cair langsung ke sungai, menambah warna keruh pada aliran yang dulu jernih.
Di sisi lain, deru alat berat terdengar ketika para penggali mengeruk kerikil dari dasar sungai untuk membuat beton, aktivitas yang menurut para ahli perlahan mengubah jalur alami sungai dan membuat tepiannya menjadi rapuh.
Baru-baru ini UNESCO telah menetapkan lembah Vjosa di Albania sebagai salah satu dari 26 Cagar Biosfer baru dunia, sebagai bagian dari upaya global melindungi ekosistem paling kaya dan rapuh di bumi.
Lembah Vjosa membentang dari Yunani utara hingga pesisir Adriatik Albania. Namun di balik panorama yang mempesona itu, kekhawatiran terus bergema. Bagi aktivis lingkungan seperti Besjana Guri dari organisasi Lumi (Sungai), pengakuan internasional hanyalah langkah awal.
"Dokumen UNESCO tidak serta-merta menyelesaikan masalah," ujarnya saat meninjau lembah minggu lalu.
"Lihatlah di sini, plastik, limbah, tambang kerikil. Ini semua akan merusak alam yang indah ini," lanjutnya.
UNESCO pun menyadari tantangan itu. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menegaskan bahwa penetapan situs biosfer bukan berarti masalah sudah berakhir, melainkan komitmen suatu negara untuk memperbaikinya. Jika muncul persoalan, tim ahli UNESCO akan berkoordinasi langsung dengan pemerintah setempat untuk memverifikasi dan memberikan solusi.
Menteri Lingkungan Hidup Albania, Sofjan Jaupaj, mengakui masih banyak pekerjaan rumah. Di kantornya, salinan berbingkai penetapan UNESCO tergantung di dinding simbol kebanggaan sekaligus pengingat tanggung jawab besar.
"Kami berencana menginvestasikan lebih dari 150 juta euro untuk mengolah air limbah dan menutup seluruh tempat pembuangan sampah," katanya kepada Reuters.
Seorang pria berjalan di jembatan di tepi lembah Vjosa, yang baru-baru ini ditetapkan sebagai situs UNESCO, di Tepelene, Albania, 5 Oktober 2025. Foto: REUTERS/Florion Goga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar