Presiden Komisaris PT Barito Pacific Prajogo Pangestu. Foto: Barito Pacific
Emiten energi dan pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO), menandatangani kontrak kerja sama dengan Reko Diq Mining Company (Private) Limited, untuk menggarap proyek pertambangan emas dan tembaga terbesar di dunia yang berlokasi di Pakistan.
Melalui anak usahanya, Petrosea Solutions Pakistan (Private) Limited, perusahaan menandatangani Limited Notice to Proceed atau perjanjian pelaksanaan awal untuk proyek jasa Engineering, Procurement, and Construction (EPC).
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/10), manajemen Petrosea mengungkapkan nilai kontrak awal proyek ini mencapai USD 26,2 juta atau sekitar Rp 435,2 miliar (asumsi kurs Rp 16.612 per Dolar AS), dengan jangka waktu penyelesaian sekitar 10 bulan.
Lingkup pekerjaan mencakup pembangunan fondasi beton untuk fasilitas dry plant, wet plant, serta infrastruktur non-proses termasuk pekerjaan tanah (earthworks) secara detail.
"Penandatanganan perjanjian ini merepresentasikan ekspansi bisnis dan pengembangan usaha lini bisnis jasa EPC serta perluasan basis klien ke luar Indonesia guna memastikan pertumbuhan yang terdiversifkasi dan berkelanjutan," ujar Presiden Direktur PTRO, Michael, dalam keterangan tertulisnya.
Saham PTRO mengalami koreksi pada perdagangan Rabu (8/10). Berdasarkan data dari Stockbit, harga saham PTRO pada pukul 11.23 WIB tercatat di level Rp 7.150 per saham, turun 125 poin atau 1,72 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 7.275.
Sepanjang perdagangan siang ini, saham PTRO sempat menyentuh level tertinggi di Rp 7.375 dan terendah di Rp 6.775. Saham bergerak dalam tren menurun sejak awal sesi meski kemudian sempat menguat menjelang penutupan sesi I.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar