Viral video siswi kelas 12 SMK Muhammadiyah Kandanghaur di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berinisial ANS (16 tahun), tampak murung tidak mau ikut ujian tengah semester karena memiliki tunggakan biaya sekolah sebesar Rp 4,9 juta.
Gara-gara video itu, banyak netizen yang ingin memberikan donasi.
Saat ditemui kumparan, ibunda ANS, Yanti (39), memberikan klarifikasi bahwa video tersebut bukan mau meminta donasi.
SMK Muhammadiyah Kandanghaur. Foto: Dok. kumparan
ANS menuturkan bahwa pihak sekolah sebetulnya membolehkan sang anak untuk ikut ujian. Hanya saja pihak sekolah memanggil orang tua ANS.
Nah, panggilan orang tua itu membuat ANS merasa tertekan hingga enggan berangkat ke sekolah. Ia melewatkan dua hari ujian dan terus menangis di kamar.
Bahkan, ANS sempat meminta berhenti sekolah karena khawatir tidak mampu melunasi tunggakan.
"Saya enggak minta belas kasihan, cuma minta solusi supaya anak saya mau berangkat ikut ujian," kata Yanti.
Anak Nelayan
Yanti (kiri) dan ANS saat pendataan dari kementerian sosial di rumahnya, Kamis (18/9/2025). Foto: Dok. kumparan
Yanti menuturkan kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit. Suaminya, Subrata (40), bekerja sebagai nelayan.
Beberapa hari terakhir, Subrata tidak bisa melaut karena cuaca buruk.
Di sisi lain, keluarga juga harus menghidupi dua anak lain yang masih kecil, masing-masing berusia 9 tahun dan 1 tahun.
Penjelasan Sekolah: Tidak Ada Pelarangan
Kepala Sekolah, Afandi, saat memberikan keterangan terkait salah satu muridnya yang murung dan tidak ikut ujian tengah semester, Kamis (18/9/2025). Foto: Dok. kumparan
Kepala Sekolah, Afandi, menegaskan tidak ada larangan bagi ANS untuk ikut ujian. Sejak hari pertama ujian pada Senin (15/9), kartu ujian tetap diberikan dan ANS pun sudah melaksanakan ujian.
"Tidak ada pelarangan. Justru kami ingin siswi tersebut ikut ujian," kata Afandi kepada kumparan di sekolah.
Ia menjelaskan, konfirmasi soal tunggakan merupakan hal wajar di sekolah swasta. Menurutnya, tujuan konfirmasi bukan untuk menekan, melainkan agar pihak sekolah mengetahui kondisi siswa dan bisa mencari solusi bersama.
"Kadang ada siswa yang diberi uang oleh orang tuanya untuk bayar sekolah, tapi tidak disetorkan. Jadi kami ingin anak belajar jujur," jelasnya.
Sekolah Hapus Tunggakan
Afandi menilai kejadian ini muncul akibat miskomunikasi. Bahkan, setelah mendengar kondisi ekonomi keluarga ANS, pihak sekolah memutuskan menghapuskan tunggakan.
"Persoalan ini sudah diselesaikan baik-baik. Siswi tersebut hari Kamis ini juga sudah kembali sekolah untuk ikut ujian," ujar Afandi.
Pada Kamis (18/9), Dinas Sosial pun datang ke rumah keluarga ANS untuk mendata.
Yanti (kedua kanan) dan ANS saat pendataan dari kementerian sosial di rumahnya, Kamis (18/9/2025). Foto: Dok. kumparan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar