Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan kendaraan berotator dan sirene yang wara-wiri di jalanan. Keresahan terjadi karena seringkali kendaraan itu meminta jalur di saat kondisi jalanan yang padat.
Salah satu pengguna jalan, Akbar, mengaku merasa pusing jika mendengar suara sirene tot-tot wuk-wuk.
"Ya, kalau menurut saya tat-tot gitu agak mengganggu ya. Apalagi kalau jalanan lagi macet, denger tat-tot, tat-tot pusing juga kadang," ucap Akbar kepada kumparan Jumat (19/9).
Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Terkadang berat baginya untuk memberikan jalan bagi mereka yang sibuk membunyikan sirene. Namun pada akhirnya mau tidak mau harus mengalah.
"Mungkin emang buru-buru atau apa mereka, tapi kan susah ya buat positive thinking. Maksudnya yang buru-buru kan bukan mereka juga, kita juga mungkin buru-buru tapi tetep ikut macet-macetan," ungkap Akbar.
Sementara itu, pengemudi ojek online, Yono, juga mengaku tak setuju dengan penggunaan sirene dan rotator di jalanan yang macet.
Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
"Kalau lagi lancar sih nggak mengganggu, cuma kalau lagi kemacetan panjang terus orang lain suruh minggir, suruh ngasih jalan, ya mengganggu," jelas Yono.
Dia pun meminta agar pengguna kendaraan berotator itu lebih sopan dalam meminta jalan. Selain itu, menurutnya, kendaraan berotator hanya boleh digunakan oleh pejabat tinggi saja.
"Kalau bisa yang kelas tertentu, jangan yang (pejabat) kelas bawah selalu dikawal," kata Yono.
Belakangan ini ramai gerakan di publik dan media sosial yang meminta pejabat dan pengguna kendaraan untuk tak menyalakan sirene, strobo, dan rotator ilegal di jalan.
Kendaraan berotator melintas di Jalan MT Haryono, Jakarta, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Gerakan bernama 'Stop Tot Tot Wuk Wuk di Jalan' ini telah ramai digaungkan publik di media sosial. Beberapa bahkan telah memasang stiker bertuliskan 'Stop Sirene dan Strobo'.
Stiker lain bertuliskan 'Penggunaan sirene dan strobo hanya diperbolehkan untuk ambulans dan Damkar'.
Gerakan ini muncul imbas kemarahan publik akibat penggunaan sirene, strobo, dan rotator yang tak sesuai peruntukan, khususnya penggunaan di jalan protokol dan kawasan wisata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar