Lini truk Mercedes-Benz yang dibawa PT Daimler Commercial Vehicle Indonesia (DCVI) di pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) 2025, Kemayoran Jakarta. Foto: Sena Pratama/kumparan
Sales and Marketing Department Head Metalindo Teknik Utama (MTU) Karoseri, Sandy Riadi tak menampik aktivitas impor truk asal China untuk kebutuhan tambang (mining), mulai berdampak terhadap penjualan unit hasil karoseri lokal.
Ini karena truk yang didatangkan langsung dari China itu sudah full built dengan bodi lengkap sehingga melemahkan industri karoseri lokal.
"Kami tahun lalu saja untuk dapat target (penjualan) 50 persen saja susah. Misalnya kami achievment 80 unit, tetapi cuma mampu dapat 20-an atau 30 unit, kami terbantu pengerjaan di luar unit jadinya portable seperti trailer untuk tahun ini," kata Sandy saat ditemui di Kemayoran, Jakarta, Jumat (12/9/2025).
Dijelaskannya, beredarnya truk impor yang sebagian besar berasal dari China itu sudah dimulai sejak tahun 2022. Sandy bilang, sejatinya komunitas karoseri lokal sudah cukup lama menyuarakan isu tersebut kepada pemerintah.
"Tetapi belum (direspons pemerintah/regulator). Kalau permintaan atau penjualan teman-teman APM (Agen Pemegang Merek) turun, otomatis berdampak kepada karoseri yang sudah menjalin kemitraan," imbuhnya.
Kendaraan alat berat ditampilkan di Pameran Mining Indonesia 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/9/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Disinggung mengenai adanya pengurangan tenaga kerja sampai pemutusan hubungan kerja (PHK) di lingkungan perusahaan, Sandy menjelaskan beberapa pelaku karoseri kini mulai mencari alternatif untuk memproduksi segmen komersial lainnya.
"Sekarang ini kebanyakan karoseri itu menerapkan switch model bisnis dan area bisnis. Awalnya kami juga kebanyakan dari mining, cuma kemarin aktivitas batu bara agak menurun dengan negara penghasil dan regulasi soal nikel, kami akhirnya berpindah," katanya.
"Jadi yang tadinya mining support kini kami coba main di segmen on road. Mungkin pesaingnya memang sudah banyak, tetapi kembali lagi apa yang bisa kami hasilkan karena kalau misalnya kami stuck pada area atau segmen tertentu saja ya nanti tidak ada yang bisa dihasilkan juga," terang Sandy.
MTU Karoseri sendiri dijelaskan Sandy sudah cukup sering menerima pemesanan dari pengusaha transportasi tambang. Baru-baru ini, pabrikan merilis dump truck dengan spesifikasi penggunaan jalan umum guna menjaga volume produksi, sekaligus diversifikasi produk.
Proses pembuatan karoseri truk di Sigma, Cikarang. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
"Bukan soal merek China tetapi teknologinya, kami mendorong industri lokal. Kami saja harus patuh soal TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), masa mereka bisa masuk satu gelondong begitu kan jadi tidak fair, itu yang kami gaungkan," pungkas Sandy.
Sebelumnya anggota dan juga pengurus Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo), Sommy Lumajeng berharap produsen truk impor asal China mau melibatkan mitra lokal sebagai bagian dari investasinya di Indonesia.
"Memang kendaraan-kendaraan tersebut masuk dengan cara yang benar lewat aturan BKPM tadi untuk buka investasi atau penanaman modal. Tapi kalau seperti itu, bagaimana dengan kendaraan yang sudah diproduksi di dalam negeri," katanya kepada kumparan.
Masterlist import biasanya diajukan lewat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM/Kementerian Investasi). Sommy menuturkan, kendati truk impor China tersebut datang secara legal, tetapi regulasi tadi yang bisa dijadikan celah justru dapat mengancam industri manufaktur dalam negeri.
Pembuatan karoseri untuk truk dari lempengan baja. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
"Semacam celah peraturan itu nantinya bisa menjadi kurang fair untuk bersaing. Apalagi pantauan dari teman-teman yang di sana bahwa kendaraan-kendaraan itu masih Euro 2, padahal di sini sudah diwajibkan Euro 4," bebernya.
Dalam pengamatannya, kebanyakan jenis dan spesifikasi truk impor yang digunakan untuk operasional pertambangan, sebenarnya telah dipenuhi pemanufaktur di Indonesia atau dari karoseri. Sederhananya, menjadi pertanyaan besar urgensi impornya.
"Kalau bus untuk personel di tambangnya itu dan truk-truk dump, sebenarnya kan (bisa) diproduksi di sini. Kecuali misalnya alat berat khusus seperti ekskavator atau semacamnya mungkin memang (masih didatangkan langsung). Tetapi kalau kendaraan yang memang sudah bisa diproduksi di sini kenapa juga harus dari luar," kata Sommy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar