RR (23), gadis yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di China berharap bisa segera pulang dan berkumpul lagi bersama keluarganya, terutama ibu serta kakaknya, di Sukabumi, Jawa Barat.
"Harapannya ingin cepat pulang, karena kangen keluarga, tapi gak bisa apa-apa, di sini cuma bisa berdoa," ujar RR melalui sambungan video call dengan kuasa hukumnya, Rangga Suria Danuningrat, Sabtu (20/9).
Orang yang paling dirindu RR saat ini adalah ibunya. Dia pun meminta maaf kepada ibunya karena telah membuatnya bersedih atas apa yang dialaminya.
Dia mengungkapkan, berangkat ke luar negeri dengan tujuan bekerja agar bisa mengubah nasib keluarganya, tapi malah jadi korban perdagangan orang.
"Pesan saya untuk ibu. Ibu, minta maaf, belum bisa jadi anak yang bisa membahagiakan ibu, tapi selalu berusaha untuk bisa menjadi apa ibu inginkan, karena harapan satu-satunya tapi malah bikin ibu sedih, tidak tahu akan seperti ini. Tadinya ingin bisa membahagiakan ibu, ternyata malah terjebak," kata RR.
Kerap Diancam
RR mengungkapkan, saat ini dirinya berada di sebuah rumah di daerah Guangzhou, China. Di rumah itu, RR bersama seorang pria China berinisial TCC yang membelinya dari sindikat perdagangan orang di Indonesia.
Dia membenarkan bahwa pria China itu sering melakukan pemaksaan dan apabila tidak menuruti kemauannya maka dirinya diancam dibuat menderita.
"Kalau misalkan saya gak nurut atau tidak mau, saya selalu mendapat ancaman, saya akan buat hidup Anda menderita dan tidak akan dikembalikan ke Indonesia," ujar RR menirukan ancaman pria itu.
RR juga menyatakan polisi setempat sudah datang ke rumah tersebut. Sejak itulah, pria China itu tidak boleh lagi dekat dengan RR.
"Dia masih di rumah cuma beda ruangan saja," ujar RR.
Kuasa hukum RR, Rangga juga mengatakan kliennya itu disekap dan kerap disiksa oleh TCC.
"Pengakuan RR, setiap hari dijadikan objek seksual, dieksploitasi terus-terusan, disiksa, disekap. Dia minta pulang, kalau enggak kuat mah pengin bunuh diri," kata Rangga, Rabu (17/9).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar