Pemerintah Vietnam memperkirakan produk domestik bruto (PDB) negara itu tumbuh 7,6 persen pada kuartal II 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Vietnam Nguyen Hoa Binh dalam sidang parlemen, Jumat (20/6).
Mengutip Reuters, Binh menjelaskan, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Vietnam untuk semester pertama tahun ini diperkirakan mencapai 7,3 persen. Meski angka ini cukup kuat, pemerintah mengakui pencapaian target tahunan sebesar 8 persen tetap akan menjadi tantangan besar.
"Akan menjadi tantangan besar untuk mencapai target pertumbuhan tahun ini sebesar 8 persen," ujar Binh.
Di tengah tekanan global dan ketidakpastian pasar, Vietnam juga terus menjaga keseimbangan hubungan dagang dengan dua mitra utamanya yakni Amerika Serikat dan China. Vietnam saat ini sedang bernegosiasi dengan AS untuk mencegah diberlakukannya tarif tinggi terhadap produknya.
"Vietnam berupaya sebaik mungkin untuk menghindari tarif timbal balik AS sebesar 46 persen atas produknya. Kami tidak berasumsi bahwa tarif tersebut akan berlaku," ungkapnya.
Adapun, tarif tersebut muncul akibat surplus perdagangan Vietnam yang besar dengan Amerika Serikat.
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Binh menyebut pemerintah telah menggenjot berbagai sektor utama seperti ekspor, manufaktur, investasi publik, dan investasi langsung asing (FDI). Tak hanya itu, Vietnam juga sedang membidik sumber-sumber pertumbuhan baru, termasuk investasi hijau serta industri teknologi tinggi seperti semikonduktor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar