Search This Blog

Kisah Ojol di Bandung Tambal Jalan Rusak Pakai Duit Pribadi: Saya Pernah Jatuh

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kisah Ojol di Bandung Tambal Jalan Rusak Pakai Duit Pribadi: Saya Pernah Jatuh
May 19th 2025, 11:15 by kumparanNEWS

Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan
Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan

Hasan Fiidel (24 tahun), seorang pengemudi ojek online (ojol) asal Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, mencuri perhatian atas aksinya menambal jalan rusak dengan alat dan bahan seadanya.

Aksi sosial itu dilakukannya secara mandiri, menggunakan uang hasil menarik penumpang.

Hasan mengaku sudah dua minggu mengaspal jalan rusak di wilayah Bandung dan sekitarnya. Namun, ia menyebut persiapan untuk melakukan hal ini sudah dilakukan sejak empat bulan lalu.

"Kalau kegiatan baru dua minggu, kalau perencanaan saya sudah hampir empat bulan, cuma dulu banyak kendalanya dari peralatan, aspalnya gimana," ujarnya saat ditemui, Senin (19/5/2025).

Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan
Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan

Ia mengaku belajar secara otodidak mengenai cara menambal jalan melalui internet seperti YouTube, Google, hingga AI selama dua hari sebelum langsung mempraktikannya.

Hasan mengatakan inspirasi awal muncul ketika ia mengalami kecelakaan saat bekerja. Hasan terjatuh akibat jalan berlubang hingga ponselnya rusak.

"Waktu itu saya pernah jatuh karena jalan yang berlubang sampai handphone saya LCD-nya rusak," tuturnya.

Sejak insiden tersebut, ia tergerak untuk melakukan sesuatu agar kejadian yang menimpanya tidak dirasakan oleh orang lain dengan cara menambal sendiri jalanan yang berlubang.

"Saya berpikir saja, jangan sampai orang jatuh karena jalan yang berlubang," katanya.

Modal Uang Sendiri

Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan
Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan

Dalam upayanya memperbaiki jalan, Hasan menggunakan bahan-bahan bekas yang ditemukannya di pinggir jalan, seperti bongkahan aspal yang sudah terkelupas.

"Yang sekarang digunakan itu aspal bekas yang sudah terkelupas yang dibuang di pinggir jalan, saya manfaatkan itu," jelasnya.

Untuk memperbaiki jalan, ia membutuhkan gas, bensin, dan cairan perekat. Proses menambal lubang sendiri membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, namun proses mencairkan aspal bisa memakan waktu hingga tiga jam.

"Dulu mah saya beli cairan aspal, beli pasir beton. Sekarang modalnya cuma buat beli gas, bensin, sama cairan perekat atau lem aspal," ujar Hasan.

Saat awal mencoba, Hasan mengaku mengeluarkan dana sekitar Rp 500 ribu tanpa dikontenkan. Kini, biayanya penambalan jalan tergantung ukuran lubang.

"Kaya kemarin di Katapang itu cuma puluhan ribu," katanya.

Ia juga mengetahui titik lokasi jalan berlubang saat menarik penumpang, dirinya pun langsung mengabadikan jalan berlubang sebelum nantinya diperbaiki.

"Kalau dari awal ngonten sampai saat ini, saya suka tandain kalau lagi narik penumpang dari Ciwidey ke Kota Bandung, saya fotoin," jelasnya.

Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan
Pengemudi ojek online, Hasan Fiidel, menambal jalan rusak di Kabupaten Bandung. Foto: kumparan

Hasan sudah menjadi pengemudi ojol selama tiga tahun, sejak lulus sekolah.

"Lulus sekolah juga sudah ngojol, terus kerja, habis kontrak kerja ya ngojol lagi, sekarang fokus di ojol," ujarnya.

Terkait tawaran bantuan dari warga dan sesama ojol, Hasan menyambut baik antusiasme mereka, meski memilih untuk tetap bekerja sendiri.

"Bukan saya menolak atau gimana, cuma kan beda-beda ya orang itu, ada yang betul niatnya membantu atau pengin memanfaatkan keadaan," ungkapnya.

Keluarga dan pemerintah setempat, menurut Hasan, mengetahui kegiatannya. Bahkan, saat pertama kali mencoba di Desa Cibodas, ia meminta izin langsung kepada kepala desa. "Itu salah satu adab saya," katanya.

Selama ini, Hasan sudah memperbaiki jalan di beberapa wilayah seperti Ciwidey, Katapang, dan Soreang. Ia menyisihkan penghasilannya dari hasil ojol untuk membeli perlengkapan tambal jalan.

"Kadang dapat Rp 80.000 bersih, pasti saya sisihkan buat beli cairan aspal," kata Hasan.

Hasan juga tidak menyalahkan pihak mana pun terkait kondisi jalan. Ia memahami proses perbaikan oleh pemerintah membutuhkan waktu dan dana besar.

"Tapi kalau saya kan waktunya luang, sambil nunggu diaspal sama pihak terkait, ya saya lakukan aktivitas ini," ujarnya.

Meski hanya bermodalkan niat dan alat sederhana, banyak warga yang menghargai upaya Hasan.

"Banyak yang nanya dari pihak pemerintah atau bukan, ada yang memvideo, ada yang berterima kasih," tuturnya.

Namun, Hasan juga menegaskan bahwa skalanya masih kecil dan tidak bisa menangani lubang-lubang besar.

"Kalau lubangnya gede mah, bukan kerjaan saya," ujar dia.

Media files:
01jvkbsj12a23semah5em4tkce.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar