Dede (63) warga Desa Sancang Kabupaten Garut, saat berbincang di kediamannya, Rabu (13/5). Foto: Robby Bouceu/kumparan
Pemusnahan amunisi kedaluwarsa milik TNI di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut Jawa Barat menewaskan 13 orang, Senin (12/5). Empat anggota TNI dan 9 sipil.
Dede (63) warga Desa Sancang, yang kampungnya bertetangga dengan Desa Sagara, mengatakan dirinya kaget saat ledakan tersebut terjadi pada pukul 09.30 WIB.
"Saya lagi nyuci, kaget," ucapnya saat berbincang dengan di warungnya, Selasa (13/5).
Anggota Brimob berjaga di lokasi jalan menuju okasi pemusnahan amunisi kadaluarsa di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (13/5). Masyarakat dilarang mendekat, saat ini penyisiran untuk sterilisasi masih dilakukan. Foto: Robby Bouceu/kumparan
Saat mendengar ledakan itu, dia langsung ke depan rumah dan mengecek sekeliling. Menurut dia, saat ledakan terjadi, bangunan warungnya ikut bergetar.
"Sampe ke sini suaranya, ini bangunan warung sampai bergetar," ujar Dede.
Dia mengatakan hal tersebut memang kerap terjadi bila sedang ada pemusnahan amunisi. Bahkan sebelumnya, ada kaca rumah yang pecah bila ledakan sangat kencang.
"Kalau kencang banget kadang kaca pecah," ucapnya.
Saat ini kondisi sekitar titik ledakan dijaga ketat polisi. Sejumlah personel Brimob berjaga sekitar 300 meter dari titik pemusnahan.
Penjagaan tersebut dilakukan karena daerah itu sedang disterilisasi untuk menyisir benda atau serpihan yang dikhawatirkan berbahaya. Dari titik petugas Brimob berjaga, terlihat lokasi peledakan digaris polisi.
Insiden itu terjadi saat TNI AD menggelar pemusnahan amunisi tak layak pakai di Desa Sagara pada pukul 09.30 WIB. Pemusnahan dilaksanakan oleh jajaran Gudang Pusat Munisi III Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat.
TNI masih melakukan investigasi terkait hal ini.
Sementara itu, di RSUD Pameungpeuk, saat ini masih dilakukan proses identifikasi korban. Tujuannya untuk mengetahui anggota keluarga korban. Itu dilakukan lewat data seperti foto.
"Sampai saat ini sudah teridentifikasi ada empat orang anggota, masyarakat sipil ada lima orang. Sisa empat (yang belum teridentifikasi)," kata Kepala Seksi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan Rekam Medis RSUD Pameungpeuk Yani Dahyani kepada wartawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar