Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir usai pisah sambut di Kemlu RI, Senin (21/10/2024). Foto: Tiara Hasna/kumparan
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir menilai, tata kelola global saat ini tidak mencerminkan keseimbangan. Organisasi internasional yang seharusnya mampu membawa berbagai negara kepada keseimbangan telah kehilangan fungsi.
Organisasi-organisasi yang seharusnya mewakili aspirasi dari berbagai negara dan mengedepankan kepentingan negara bagian Selatan mulai abai. Khususnya terhadap tujuan awal mereka didirikan.
"Kenyataannya, tata kelola global saat ini tidak mencerminkan keseimbangan, kekuatan, maupun realitas dunia. PBB misalnya sudah tidak lagi fit for purpose (sesuai tujuan), "tutur Arrmanatha dalam paparan di The Yudhoyono Institute Discussions, Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Minggu (13/4).
"Struktur institusi multilateral seperti Bretton Woods, WTO, merupakan refleksi dari pasca Perang Dunia kedua tidak banyak mewakili aspirasi dan kepentingan negara global south, "sambungnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dalam memberikan sambutan dalam The Yudhoyono Institute Panel Discussion di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Minggu (13/4/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Bagi Indonesia, Arrmanatha menjelaskan, reformasi PBB dan lembaga multilateral lainnya akan menjadi prioritas dalam kebijakan politik luar negeri mereka. Hal ini ditunjukkan dari kesepakatan Pact of The Future oleh masing-masing kepala negara di Sidang Majelis Umum PBB ke-79 di New York, Amerika Serikat.
"Oleh karena itu, buat Indonesia mendorong reformasi PBB dan lembaga multilateral lainnya akan menjadi prioritas. Disepakatinya Pact of The Future oleh kepala negara pada Sidang Majelis Umum PBB ke-79 merupakan langkah awal untuk melakukan proses reformasi menyeluruh terhadap sistem multilateral," jelasnya
Di saat dunia tengah dalam perubahan besar, Arrmanatha menegaskan, Indonesia selalu menolak jalan keluar konfrontasi. Dengan mengadopsi nilai-nilai semangat perjuangan yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) Tahun 1955.
"Di saat dunia yang sedang di tengah perubahan besar dan perubahan ini akan kita, perlu kita membuat pilihan terbaik untuk pembentukan masa depan bangsa. Indonesia memilih jalan kerja sama dan bukan konfrontasi," terangnya.
"Serta jalan inklusivitas bukan eksklusivitas. Seperti saya sampaikan, Indonesia akan mendorong reformasi global dengan mengusung nilai-nilai Bandung Spirit (Semangat Bandung di KAA) tahun 1955," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar