May 2nd 2024, 18:45, by Tiara Hasna R, kumparanNEWS
Asap mengepul dari gudang menyusul ledakan di pangkalan militer di provinsi Kampong Speu (27/4/2024). Foto: AFP
Kementerian Pertahanan Kamboja mengumumkan, gelombang panas yang melanda Asia Tenggara berperan dalam ledakan amunisi yang menewaskan 20 tentara di sebuah pangkalan militer akhir pekan lalu.
Ledakan dahsyat itu menghancurkan truk amunisi dan meratakan bangunan. Insiden terjadi di pedesaan provinsi Kampong Speu pada Sabtu (27/4) lalu. Selain menewaskan tentara, ledakan tersebut juga melukai beberapa orang, termasuk satu anak.
Kementerian Pertahanan menyatakan, penyelidikan menyimpulkan gelombang panas menjadi penyebab ledakan senjata lama tersebut.
"Insiden ledakan amunisi pada 27 April 2024 terkait dengan masalah teknis karena senjata yang sudah tua, rusak, dan cuaca panas," ungkap pihaknya, seperti dikutip dari AFP.
Meskipun demikian, pernyataan tersebut tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana gelombang panas dapat berkontribusi terhadap terjadinya ledakan amunisi tersebut.
Ilustrasi tentara. Foto: Daniel MUNOZ/AFP
Kementerian juga menepis dugaan bahwa ledakan tersebut merupakan ulah tentara pemberontak atau aksi terorisme.
Kamboja sering mengalami kecelakaan amunisi yang mematikan karena negara ini masih dipenuhi dengan sisa-sisa senjata dan amunisi dari konflik sipil yang terjadi beberapa dekade lalu. Masalah ini semakin diperparah dengan standar keselamatan yang kurang memadai.
Seperti kebanyakan negara di Asia Selatan dan Tenggara, Kamboja menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Pihak berwenang bahkan memperingatkan, suhu bisa mencapai 43 derajat celcius di beberapa daerah.
Foto-foto lain menunjukkan korban luka, termasuk seorang anak kecil yang dirawat di rumah sakit akibat ledakan tersebut.
Sejumlah bangunan, termasuk gedung perkantoran dan barak, hancur akibat kejadian tersebut. Sekitar 25 rumah di sekitarnya juga mengalami kerusakan.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, mengatakan dirinya sangat terkejut dengan kabar ledakan itu. Dia mengumumkan bahwa keluarga korban yang tewas akan menerima kompensasi sekitar USD 20 ribu per keluarga, sementara tentara yang terluka akan mendapat USD 5 ribu.
Seperti sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Tenggara tengah berjuang menghadapi cuaca panas dalam beberapa pekan terakhir.
Di Filipina, separuh negaranya sedang mengalami kekeringan, dengan suhu mencapai titik tertinggi di beberapa wilayah.
Cuaca panas telah memaksa Bangladesh untuk menunda kegiatan belajar mengajar. Sikap tersebut berdampak pada 33 juta pelajar.
Di Thailand, 30 orang meninggal karena sengatan panas antara Januari dan April tahun ini.
Dikutip dari BBC, UNICEF telah memperingatkan bahwa lebih dari 243 juta anak di Asia Timur dan Pasifik berisiko terkena penyakit dan kematian akibat suhu panas.
Seorang pakar iklim mengaitkan panas ekstrem dengan perubahan iklim dan dampak sistem cuaca El NiƱo yang kuat di Pasifik barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar