May 2nd 2024, 12:37, by Habib Allbi Ferdian, kumparanSAINS
Ilustrasi Bulan. Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Ilmuwan akhirnya mengungkap apa yang ada di dalam Bulan, dan yang pasti itu bukanlah air, apalagi keju.
Hasil penelitian yang terbit di jurnal Nature pada Mei 2023 menemukan bahwa inti bagian dalam Bulan adalah bola dengan kepadatan serupa dengan besi. Penemuan ini akan membantu menyelesaikan perdebatan panjang mengenai apakah bagian dalam Bulan itu padat atau cair, dan mengarah pada pemahaman yang lebih akurat tentang sejarah Bulan.
"Hasil kami mempertanyakan evolusi medan magnet Bulan berkat demonstrasi keberadaan inti dalam dan mendukung skenario pembalikan mantel global yang memberikan wawasan substansial mengenai garis waktu pembentukan bulan dalam miliaran tahun pertama Tata Surya," tulis tim yang dipimpin oleh astronom, Arthur Briaud, dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis.
Penyelidikan komposisi objek di Tata Surya dilakukan melalui data seismik. Cara gelombang akustik yang dihasilkan oleh gempa yang bergerak dan memantul dari material di dalam Bulan dapat membantu ilmuwan membuat peta detail permukaan objek tersebut.
Kebetulan peneliti punya data seismik Bulan yang dikumpulkan saat misi Apollo, namun data tersebut terlalu sedikit untuk menentukan keadaan inti bagian dalam secara akurat. Untuk mengetahuinya, Briaud dan rekannya mengumpulkan data dari misi luar angkasa dan lunar laser ranging experiment untuk menyusun profil berbagai karakteristik Bulan. Hal ini mencakup tingkat deformasi akibat interaksi gravitasi dengan Bumi, variasi jarak dari Bumi, dan kepadatannya.
Gambar instrumen inti bulan. Foto: Nicolas Sarter
Selanjutnya, mereka melakukan pemodelan dengan berbagai tipe inti untuk menemukan mana yang paling cocok dengan data observasi. Mereka menemukan beberapa fakta menarik.
Pertama, makin dalam inti Bulan ternyata makin padat, dan kepadatan akan semakin memudar saat mendekat ke permukaan. Ini telah diusulkan sebagai cara untuk menjelaskan keberadaan unsur tertentu di wilayah vulkanik Bulan.
Mereka juga menemukan bahwa inti Bulan sangat mirip dengan Bumi–lapisan luar yang cair dan inti dalam yang padat. Menurut pemodelan mereka, inti luar Bulan memiliki radius sekitar 362 kilometer, dan inti dalam memiliki radius sekitar 258 kilometer. Jumlah ini sekitar 15 persen dari seluruh radius Bulan.
Inti bagian dalam juga memiliki kepadatan sekitar 7.822 kilogram per meter kubik, medekati kepadatan besi. Anehnya, pada 2011 sebuah tim yang dipimpin ilmuwan planet Marshall NASA, Renee Weber, menemukan hasil serupa dengan menggunakan teknik seismologi tercanggih pada data Apollo untuk mempelajari inti Bulan. Mereka menemukan bukti adanya inti dalam yang padat dengan radius 240 kilometer, dan kepadatan sekitar 8.000 kilogram per meter kubik.
Hasil penelitian mereka, kata Briaud dan tim, merupakan konfirmasi atas temuan sebelumnya, dan merupakan bukti cukup kuat untuk inti bulan yang mirip Bumi. Hal ini punya beberapa implikasi menarik bagi evolusi Bulan.
"Kita tahu tidak lama setelah terbentuk, Bulan mempunyai medan magnet yang kuat, dan mulai menurun sekitar 3,2 miliar tahun lalu. Medan magnet seperti itu dihasilkan oleh gerakan dan konveksi di dalam inti, sehingga inti Bulan terbuat dari bahan yang sangat relevan dengan bagaimana dan mengapa medan magnet tersebut menghilang," papar peneliti sebagaimana dikutip Science Alert.
"Mengingat harapan umat manusia untuk kembali ke Bulan dalam waktu dekat, mungkin kita tidak perlu menunggu lama untuk verifikasi seismik atas temuan ini."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar