Dec 14th 2023, 19:45, by Fadlan Nuril Fahmi, kumparanNEWS
Ketua Dewan Pakar Timnas AMIN Hamdan Zoelva berbicara saat diskusi dengan tema 'Mengapa Demokrasi Tak Boleh Mati di Jakarta?' di Jalan Dipenogoro No 10, Jakarta, Kamis (7/12/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ketua Dewan Pakar Timnas AMIN, Hamdan Zoelva menanggapi perihal sebutan oposisi oleh Anies Baswedan ketika debat capres pertama di KPU, Selasa (12/12) lalu. Dalam pernyataan penutupnya, Anies menyebut 'Wakanda No More, Indonesia Forever'.
Menurut Hamdan, demokrasi saat ini tidak berjalan dengan baik. Sehingga suara oposisi dari pemerintah tidak terdapat akses bicaranya.
"Persoalan dasarnya adalah demokrasi tidak berjalan dengan baik. Suara-suara oposisi, suara yang beda dengan pemerintah itu tiada salurannya," ujar Ketua Dewan Pakar Timnas AMIN, Hamdan Zoelva usai menggelar konferensi pers di Sekretariat Koalisi Perubahan, Brawijaya X, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).
Menurut Hamdan, sampai pada tingkat DPR pun jarang terdengar suara yang berbeda atau dari pihak oposisi.
"Sampai kepada DPR, orang pun bersuara atau anggota DPR bersuara kita dengar jarang sekali. Jadi suara oposisi ini kurang," ucap Hamdan.
Selain itu, menurutnya, banyak masalah di sisi hukum yang tidak terbuka atau transparan.
Anies Baswedan saat debat pertama Calon Presiden Pemilu 2024 di KPU RI, Jakarta, Selasa (12/12/2023). Foto: KPU
Hal ini membuat demokrasi ketika bertemu dengan persoalan hukum menjadikan proses demokrasi tidak berjalan dengan baik.
"Problem hukum yang tidak terbuka dan tidak transparan ini menjadi masalah besar. Karena itu kemarin disampaikan bahwa harus ada oposisi. Artinya demokrasi harus terbuka," kata Hamdan.
Bagi Hamdan, DPR perlu membuka suara rakyat yang ada di bawah sebab saat ini rakyat yang berada di bawah tidak memiliki keberanian untuk membuka suara yang akhirnya berdalih di balik kata Wakanda untuk mengkritik pemerintah.
"Demokrasi harus dibuka, DPR harus mau membuka suara rakyat di bawah. Dan teman-teman harus mau membuka suara sekarang tidak berani," jelasnya.
"Karena itu dalam istilah Pak Anies anak-anak yang mau mengkritik negara dibilang negara Wakanda, mau mengkritik presiden, presiden di tetangga sebelah, presiden negara Wakanda. Itu adalah cerminan ketidakberanian mengkritik karena demokratisasi yang ditutup," tambahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar