Mar 31st 2023, 12:17, by Salmah Muslimah, kumparanNEWS
Ilustrasi pemukulan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
Video keributan hingga pemukulan yang dilakukan seorang pria di Kompleks Mega Park, Jalan Kapten Muslim, Kecamatan Medan Helvetia, Rabu (29/3) viral di media sosial (medsos). Tak hanya memukul, pria bertubuh tegap yang diduga oknum aparat itu disebut sempat mengacungkan benda berbentuk pistol.
Dalam video yang beredar, oknum tersebut terlihat adu mulut dengan seseorang. Belum diketahui jelas penyebab pertengkaran mereka.
"Ngancam-ngancam, ya. Ngancam-ngancam, hilang. Kalau hilang dia berarti Bapak ini (oknum aparat) yang ngapain," ucap warga yang merekam kejadian itu.
"Tadi juga mengacungkan senjata api," timpal warga lainnya
Akan tetapi, pria bertubuh tambun berambut gondrong itu tidak terima gerak-geriknya direkam oleh warga. Dia langsung mengejar dan melayangkan pukulan sehingga kamera HP yang dipegang warga sempat bergeser ke arah lantai.
"Jangan main tangan kau. Kok main tangan pula kau. Jangan gara-gara kau polisi. Macem betul kali. Udah rekam aja terus," ucap perekam yang disambut warga lainnya.
Setelah kejadian tersebut, oknum diduga aparat itu meninggalkan lokasi. Sementara warga berdatangan ke lokasi kejadian.
"Warga dipukuli dan diacungkan senjata. Warga berkumpul mencari keadilan," ucap perekam sambil mengarahkan kamera telepon ke kerumunan warga di lokasi kejadian.
Tanggapan Polisi
Terkait hal itu, Kanit Reskrim Polsek Medan Helvetia, Iptu Ibrahim Sofie, membantah oknum tersebut polisi.
"Ya, ini sudah saya bilang, itu bukan polisi," ujarnya.
Namun saat ditanyai bagaimana kronologi kejadiannya, dia mengatakan akan menginfokannya lebih lanjut.
"Nantilah, selesai rapat, ya. Nanti selesai saya rapat, ya," ujarnya.
Diduga dipicu uang parkir
Keributan tersebut diduga terjadi karena uang parkir. Hal itu diungkapkan oleh pemilik toko Vape Holic, Dedi Purba (47), yang menjadi lokasi awal terjadinya keributan.
Menurutnya, malam kejadian itu dia yang berada di Kisaran ditelepon oleh karyawannya yang mengatakan bahwa ada pelanggan yang ribut dengan tukang parkir di tempat usahanya.
"Memang dari sebulan yang lalu pelanggan kita ini sudah komplain karena dikutip uang parkir dengan cara memaksa. Padahal, sebelum-sebelumnya dia maunya membagi-bagi. Dan aku sendiri melihat itu," kata Dedi saat dihubungi kumparan, Kamis (30/3) malam.
Kebetulan semalam, lanjut Dedi, juru parkir itu melihat pelanggan yang komplain itu datang lagi ke tokonya. Juru parkir itu lalu mendatangi pelanggan dan sempat cek-cok di dalam toko terkait uang parkir.
"Karena masih di Kisaran, aku meminta koordinator satpam kompleks ke lokasi supaya jangan sampai ada keributan. Apalagi di toko Vape kita. Kalau memang mereka mau ribut di luar, jangan di tempat kita," ujarnya.
Kekhawatiran Dedi sempat mereda setelah melihat foto yang dikirim satpam bahwa pihak yang berseteru sudah berdamai. Akan tetapi, sekitar pukul 23.00 WIB, dia kembali mendapat laporan bahwa listrik di tokonya padam lantaran meteran berikut CCTV dihancurkan pakai samurai.
Mendapat kabar itu Dedi langsung bergegas menuju Medan. Sekitar pukul 03.00 WIB dia tiba dan langsung mencari informasi terkait keributan di tokonya.
"Rupanya memang betul karena masalah uang parkir itu keributan terjadi. Padahal mereka sudah berdamai di toko kita. Dikasih lagi dia (juru parkir) uang Rp 800 ribu sama pelanggan kita itu," katanya.
"Namun pada saat mereka duduk di dalam toko. Tiba-tiba kawan si jukir (juru parkir) ini datang dengan membawa senjata tajam berupa samurai. Di situlah dihancurkan lagi tempat kita. Dibacok kursi kita. Dan dihancurkan lagi CCTV kita," tambahnya.
Kalau soal adanya diduga seorang oknum yang memukul dan mengacungkan senjata berbentuk pistol ke warga, Dedi mengaku tidak mengetahui pasti hal itu. Namun, informasi yang diperolehnya, memang terjadi pemukulan. Cuma pelakunya siapa dia tidak mendapat informasinya.
"Denpom juga nanya semalam. Ya, aku bilang aku tidak tahu. Kita tidak ada hubungan sama mereka (jukir) itu. Memang kalau masalah tamu ini memang kejadian yang lama dan menumpuk pada malam itu. Ya aku juga gitunya. Kalau sama pemuda setempat (PS) seringnya aku kasih uang parkir dan uang bulanan," katanya lagi.
"Dan aku selalu bilang kan, kalau ada tamu kita yang komplain jangan kalian minta. Nanti aku yang kasih sama kalian," sambungnya.
Terkait kerusakan tempat usahanya, Dedi telah membuat laporan pengaduan ke kantor polisi. Tujuannya agar mereka tidak terbiasa menghancurkan tempat usaha di kompleks tersebut.
"Akibat aksi brutal komplotan jukir itu, kita mengalami kerugian sekitar Rp 17 juta. Dan kita sudah melaporkan kejadian tersebut. Harapan kita petugas cepatlah menangani terkait pengaduan pengutipan liar ini. Supaya pemilik usaha di kompleks itu tidak resah," pungkas Dedi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar