Jan 3rd 2023, 11:38, by Muhammad Husein Yordan, kumparanTRAVEL
Dikutip dari AFP, sekitar 20.000 penampil yang dibagi menjadi puluhan rombongan berbaris di pusat kota sambil memainkan musik dan menari untuk karnaval tahunan Cape Town Minstrel. Foto: Rodger Bosch/AFPPenampilan tersebut disaksikan oleh ribuan orang yang berbondong-bondong yang mengunjungi Cape Town. Foto: Rodger Bosch/AFPPerayaan yang juga dikenal dalam bahasa Afrika sebagai "Tweede Nuwe Jaar" (Tahun Baru Kedua), Kembali diselenggarakan setelah istirahat dua tahun akibat Pandemi Covid-19. Foto: Rodger Bosch/AFPPerayaan ini merupakan tradisi masyarakat setempat secara turun temurun yang dilaksanakan setiap tahun. Foto: Rodger Bosch/AFPtradisi itu berakar pada masa kolonial, ketika para budak yang beberapa di antaranya dibawa secara paksa ke ujung selatan Afrika dari Asia Tenggara. Foto: Shelley Christians/REUTERSMereka diizinkan untuk bersantai sehari setelah Hari Tahun Baru. Foto: Shelley Christians/REUTERSMereka pun menggunakan waktu istirahat tersebut untuk berdandan, menari dan bernyanyi. Foto: Rodger Bosch/AFPDikutip dari AFP, sekitar 20.000 penampil yang dibagi menjadi puluhan rombongan berbaris di pusat kota sambil memainkan musik dan menari untuk karnaval tahunan Cape Town Minstrel. Foto: Rodger Bosch/AFP
Para penampil memainkan musik, menyanyi, dan menari saat mengikuti Karnaval Penyanyi Cape Town di Cape Town, Afrika Selatan, Senin (2/1).
Dikutip dari AFP, sekitar 20.000 penampil yang dibagi menjadi puluhan rombongan berbaris di pusat kota, sambil memainkan musik dan menari untuk karnaval tahunan Cape Town Minstrel. Penampilan tersebut disaksikan oleh ribuan orang yang berbondong-bondong mengunjungi Cape Town.
Perayaan yang juga dikenal dalam bahasa Afrika sebagai "Tweede Nuwe Jaar" (Tahun Baru Kedua), kembali diselenggarakan setelah istirahat dua tahun akibat Pandemi COVID-19.
Perayaan ini merupakan tradisi masyarakat setempat secara turun temurun yang dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ini berakar pada masa kolonial, ketika para budak yang beberapa di antaranya dibawa secara paksa ke ujung selatan Afrika dari Asia Tenggara.
Mereka diizinkan untuk bersantai sehari setelah Tahun Baru. Mereka pun menggunakan waktu istirahat tersebut untuk berdandan, menari, dan bernyanyi.
Anggota rombongan Baruch tampil dalam Karnaval Penyanyi Cape Town yang dikenal dalam bahasa Afrika sebagai "Tweede Nuwejaar" (Tahun Baru Kedua) di Cape Town, Afrika Selatan, Senin (2/1/2023). Foto: Shelley Christians/REUTERS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar