Jan 6th 2023, 19:31, by Nicha Muslimawati, kumparanBISNIS
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengungkap akan mengevaluasi formula Harga Batubara Acuan (HBA), lantaran beberapa indeks pembentuk HBA saat ini sedang tidak seimbang.
HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8 persen, Total Sulphur 0,8 persen, dan Ash 15 persen.
"HBA kita lagi evaluasi, kenapa? Indeks ini naik dan kemudian pada saat yang itu naik ini turun, nah HBA kita kan di tengah-tengah sebetulnya," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (6/1).
Adapun HBA Januari 2023 naik menjadi USD 305,21 per ton, dari sebelumnya USD 281,48 per ton pada Desember 2022 lalu. Kenaikan tersebut salah satunya dipicu gangguan distribusi batu bara di Australia sebagai salah satu pemasok batu bara global.
Di samping itu, faktor lain yang mengerek kenaikan HBA adalah kenaikan index bulanan Globalcoal Newcastle Index (GCNC) sebesar 16,23 persen dan Newcastle Export Index (NEX) sebesar 17,88 persen.
Meskipun index Platts dan Indonesia Coal Index (ICI) yang menjadi gambaran harga batu bara di dalam negeri turun sebesar masing-masing 8,81 persen dan 3,25 persen.
Pada tahun 2022 lalu, HBA sempat menyentuh nilai tertinggi pada bulan Oktober, terkerek hingga USD 330,97 per ton. Kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia-Ukraina menyebabkan fluktuasi harga gas Eropa menjadi faktor penggerak utama pada saat itu.
Seiring dengan hal tersebut, Arifin pun akan mempertimbangkan kembali situasi perdagangan batu bara global. "Kita memang lagi evaluasi apa yang terjadi sebetulnya di dunia perdagangan batu bara," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar