Dec 17th 2022, 18:19, by Jemima Shalimar, kumparanNEWS
Kepala Front Demokrasi Nasional Filipina (NDFP) Jose Maria Sison berbicara pada upacara pembukaan pembicaraan perdamaian formal antara pemerintah Filipina dan NDFP di Roma, (19/1/2017). Foto: Tiziana Fabi/AFP
Pendiri Partai KomunisFilipina, Jose Maria Sison, meninggal dunia pada usia 83 tahun di sebuah rumah sakit di Kota Utrecht, Belanda, Jumat (16/12).
Mantan profesor universitas itu dikabarkan berpulang dengan damai. Tokoh yang melancarkan salah satu pemberontakan Maois terlama di dunia ini tinggal dalam pengasingan di Belanda.
Ketika mengembuskan napas terakhir, dia sedang dirawat di rumah sakit. Tetapi, Partai Komunis Filipina tidak menjelaskan alasan perawatan maupun penyebab kematiannya.
"Sison meninggal sekitar pukul 8.40 malam [waktu Filipina] setelah dua pekan dirawat di sebuah rumah sakit di Utrecht," bunyi pernyataan partai, dikutip dari AFP, Sabtu (17/12).
"Proletariat Filipina dan orang-orang yang bekerja keras berduka atas kematian guru dan cahaya penuntun mereka," imbuhnya.
Aktivis Filipina berbaris, memperingati 50 tahun deklarasi darurat militer oleh mendiang diktator Ferdinand Marcos, di Universitas Filipina di Quezon City, Filipina, Rabu (21/9/2022). Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
Disadur dari Reuters, pemimpin komunis yang mengasingkan diri itu menempati Eropa sejak akhir 1980-an. Dia dibebaskan dari penjara menyusul jatuhnya diktator Ferdinand Marcos, yang putranya terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum pada Mei.
Pasalnya, Sison berharap dapat menggulingkan pemerintah dan mendirikan rezim Maois yang akan mengakhiri imperialisme Amerika Serikat (AS).
Sayap militer Partai Komunis Filipina, Tentara Rakyat Baru (NPA), lantas mengobarkan salah satu pemberontakan bersenjata terlama di dunia sejak 1969. Pada puncaknya, NPA memiliki 26.000 pejuang bersenjata. Tetapi, sekarang hanya ada 2.000 personel dalam NPA.
Perjuangan bersenjata yang terus berlangsung ini tumbuh dari gerakan komunis global. Rekrutmen untuk pemberontakan memuncak semasa kediktatoran Marcos pada 1972-1986.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos (tengah), istrinya Imelda dan Wakil Presidennya Arturo Tolentino membuat tanda "V" untuk kemenangan pemilihan presiden, 16 Februari 1986 di Manila di Istana Malacanang. Foto: HO/AFP
Badan legislatif ditutup, kebebasan pers diberangus, dan ribuan lawan disiksa atau dibunuh selama kepemimpinan tangan besi Marcos.
Sejak 1986, pemerintah Filipina berturut-turut mengadakan pembicaraan damai dengan NPA melalui cabang politik mereka yang berbasis di Belanda, NDF. Negosiasi kemudian runtuh pada 1987.
Sison dan partainya lalu dimasukkan ke dalam daftar teroris AS pada 2002. Keputusan tersebut mencegahnya bepergian.
Terpilihnya mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, pada 2016—yang menyatakan diri sebagai sosialis dan mantan murid Sison—kembali mengantarkan optimisme terhadap pembicaraan damai.
Namun, negosiasi berubah menjadi lontaran ancaman dan tudingan dalam sekejap. Secara resmi menghentikan pembicaraan, Duterte menyatakan kelompok tersebut sebagai organisasi teroris dan menuduh mereka membunuh polisi dan tentara pada 2017.
Seorang ibu dari seorang tahanan politik mengacungkan tinjunya saat bergabung dalam acara peringatan 50 tahun deklarasi darurat militer oleh mendiang diktator Ferdinand Marcos, di Universitas Filipina di Quezon City, Filipina, Rabu (21/9/2022). Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
Lebih dari 40.000 orang tewas dalam konflik antara pemerintah dan NPA. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mengeklaim bahwa ratusan pemberontak komunis telah menyerah dengan imbalan bantuan keuangan dan peluang mata pencaharian.
Kementerian Pertahanan Filipina menyebut kematian Sison dapat mengakhiri kekerasan di negara itu. Pihaknya menggambarkan dia sebagai 'batu sandungan terbesar' bagi perdamaian.
"Kematian Sison hanyalah simbol dari hierarki yang runtuh dari gerakan komunis," tulis Kemhan Filipina.
"Era baru tanpa Sison akan muncul di Filipina. Mari kita beri kesempatan untuk perdamaian," lanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar