Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutan pada peringatan satu tahun wafatnya Prof. Dr. Kuntoro Mangkusubroto (1947-2023) bertajuk "Belajar dari Kuntoro: Integritas, Kepemimpinan dan Pengabdian" di Jakarta, Selasa (17/12/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono merespons pertemuan World Economy Forum 2026 di Davos, Swiss, pada pekan lalu. Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pembicara dalam forum ini.
SBY menilai, ada banyak kabar baik dari WEF 2026. Ia berharap pertemuan itu tidak membuat kondisi dunia semakin parah.
"Ya saya pikir banyak good news ya. Paling tidak memberikan harapan bahwa dunia kita mudah-mudahan tidak menuju ke arah yang membahayakan," kata SBY dikutip Minggu (25/1).
SBY pun sempat menyinggung dirinya yang menyoroti kondisi dunia dalam tulisannya di media sosial. Bahkan, ia khawatir potensi perang dunia ketiga.
"Begini, minggu ini kan saya melepas dua tweet yang intinya, perkembangan dunia sekarang ini menurut saya memiliki kerawanan, bahkan membahayakan kalau tidak ada upaya bersama untuk mencegah mungkin terjadinya krisis di dunia kita, atau bahkan peperangan," kata SBY.
"Dan kemudian tweet saya yang kedua, saya katakan kebetulan para pemimpin dunia sekarang ini sedang bertemu di Davos. Bagus kalau masing-masing menyampaikan pikirannya, komitmen moralnya, bagaimana caranya agar dunia kita ini kita jaga keselamatannya, intinya di situ," tutur dia.
Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Jonathan Ernst/REUTERS
Ketua Majelis Tinggi Demokrat ini menuturkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang hadir dalam WEF 2026 sudah mulai melunak terhadap isu Greenland. Sikap AS terhadap Greenland ini memicu ketegangan global.
"Nah terjadi deeskalasi lah begitu Presiden Trump melunak, dan ini membuka jalan sebetulnya bagaimana urusan Greenland itu bisa dipicarakan baik-baik antara Amerika Serikat dan Eropa tentunya termasuk Denmark dan penduduk Greenland sendiri. Ternyata terbuka jalan itu, kalau tidak tertutup dan mungkin sesuatu yang buruk bisa terjadi," kata SBY.
SBY berpandangan, sikap Trump yang berubah karena pemimpin Eropa cukup 'tangguh' dalam menyikapi masalah Greenland.
"Ini dugaan saya, saya bisa salah, karena para pemimpin Eropa cukup boleh dikatakan tough, firmstatement-nya, untuk menolak pengambilalihan Greenland secara paksa, juga pemimpin dunia yang lain. Mungkin ini berpengaruh pada pengambilan keputusan dari Amerika Serikat sendiri, tapi pendek kata ini bagus," kata SBY.
Soal RI Gabung Board of Peace Bentukan Trump
Indonesia di sela rangkaian WEF 2026, memutuskan bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan Trump. SBY mengaku belum bisa memberikan komentar soal ini.
"Kalau urusan Board of Peace yang sekarang banyak dibicarakan di tanah air maupun di luar negeri sendiri, saya belum bisa memberikan komentar karena terlalu dini, tetapi kalau Indonesia bergabung dalam Board of Peace itu, tentu Presiden kita Pak Prabowo sudah mempertimbangkan dengan seksama," kata SBY.
Menlu Luar Negeri Sugiono sudah memberikan penjelasan terkait pertimbangan RI masuk dalam BOP bentukan Trump.
Presiden Prabowo Subianto berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/2026). Foto: Denis Balibouse/REUTERS
SBY Puji Prabowo
Terlepas dari isu BOP, SBY memuji Prabowo yang sudah hadir dalam pertemuan internasional ini. Sebab kondisi global yang tidak menentu.
"Saya harus memberikan pujian kepada Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, karena berkenan untuk hadir dan berpartisipasi dalam pertemuan di Davos. Begini, ini saat yang kritis katakanlah, saat yang memerlukan kebersamaan termasuk pemikiran bersama dari para pemimpin dunia, Presiden, Perdana Menteri, dan lain-lain," kata SBY.
"Nah kalau Presiden kita hadir, tentu terlibat untuk mencari solusi dan memikirkan sesuatu untuk kebaikan dunia kita. Ingat sejak Presiden Soekarno, Indonesia itu aktif, Konstitusi kita juga mengatakan demikian," tutur dia.
SBY berharap, pertemuan WEF 2026 menjadi game change untuk mencegah hal buruk terhadap kondisi dunia. "Kita tunggu realisasinya karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dirampungkan dengan sebutlah komitmen di Davos kemarin," tutup SBY.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar