Search This Blog

Ketika Pendidikan Kehilangan Adab

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Ketika Pendidikan Kehilangan Adab
Jan 18th 2026, 15:00 by Muhamad Aditya Setiawan

Ilustrasi proses belajar mengajar di sekolah yang menekankan adab dan etika (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi proses belajar mengajar di sekolah yang menekankan adab dan etika (Sumber: Gemini AI)

Belakangan ini, publik kembali disuguhi potret buram dunia pendidikan. Kasus demi kasus yang memperlihatkan retaknya relasi antara guru dan murid terus berulang. Salah satunya adalah peristiwa di Jambi, ketika seorang guru dilaporkan karena menampar muridnya. Kekerasan terhadap anak tentu tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Namun, peristiwa semacam ini semestinya tidak dilihat secara hitam-putih. Ia perlu dibaca sebagai gejala yang lebih dalam: kegagalan pendidikan dalam membentuk manusia beradab.

Kasus tersebut bukan peristiwa tunggal. Ia hadir dalam konteks relasi pendidikan yang kian timpang di mana guru berada dalam posisi serba salah, sementara murid dan orang tua kerap tampil sebagai pihak yang paling berkuasa.

Di sinilah kegelisahan itu bermula—ketika pendidikan perlahan kehilangan makna moralnya dan direduksi menjadi sekadar urusan prosedural, administratif, serta pemenuhan target kurikulum.

Relasi Guru dan Murid yang Kehilangan Keseimbangan

Relasi ideal antara guru dan murid sejatinya dibangun atas dasar penghormatan, keteladanan, dan tanggung jawab. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan juga pendidik yang diberi mandat sosial untuk menuntun, membimbing, dan membentuk karakter murid. Namun dalam praktik pendidikan hari ini, relasi tersebut kian rapuh.

Ilustrasi guru dan murid. Foto: Shutterstock
Ilustrasi guru dan murid. Foto: Shutterstock

Atas nama HAM dan perlindungan anak, guru kerap berada dalam posisi yang sangat rentan. Banyak tindakan pendisiplinan yang dimaksudkan sebagai bagian dari proses pendidikan justru ditafsirkan sebagai pelanggaran, bahkan berujung kriminalisasi.

Padahal, semua sepakat bahwa kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan. Namun, pendidikan juga tidak bisa direduksi menjadi logika benar-salah yang kaku tanpa mempertimbangkan konteks, niat mendidik, dan relasi yang menyertainya.

Akibatnya, otoritas moral guru perlahan terkikis. Ketegasan yang manusiawi dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab pendidikan. Dalam situasi seperti ini, sekolah kehilangan wibawanya sebagai ruang pembentukan karakter.

Orang Tua, Sekolah, dan Krisis Kepercayaan

Persoalan ini semakin rumit ketika sebagian orang tua siswa merespons tindakan guru secara berlebihan. Sedikit ketidaksukaan terhadap cara guru mendisiplinkan anak kerap berujung pada pelaporan, alih-alih dialog dan komunikasi. Sekolah tidak lagi dipandang sebagai mitra dalam mendidik anak, tetapi sebagai pihak yang harus selalu diawasi dan dicurigai.

Padahal, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Ketika kepercayaan itu runtuh, yang dirugikan bukan hanya guru, melainkan juga anak itu sendiri. Murid tumbuh dengan persepsi bahwa guru bukan figur yang layak dihormati, melainkan pihak yang bisa ditekan dan disalahkan. Dalam jangka panjang, situasi ini merusak fondasi etika sosial.

Guru Mengajar, tapi Tak Lagi Mendidik

Ilustrasi guru. Foto: wavebreakmedia/Shutterstock
Ilustrasi guru. Foto: wavebreakmedia/Shutterstock

Tekanan hukum, tuntutan administrasi yang berlapis, dan minimnya perlindungan membuat banyak guru akhirnya memilih jalan aman. Mereka datang ke sekolah sekadar untuk mengajar, menyampaikan materi sesuai kurikulum, lalu selesai. Pembinaan karakter dihindari karena dianggap terlalu berisiko.

Pendidikan pun direduksi menjadi aktivitas teknis. Yang penting silabus terpenuhi, nilai masuk sistem, dan laporan selesai. Namun, makna pendidikan sebagai proses pemanusiaan perlahan menghilang. Kita mungkin melahirkan lulusan dengan nilai akademik yang baik, tetapi miskin empati, etika, dan tanggung jawab sosial. Inilah pendidikan yang kehilangan ruhnya.

Belajar dari Sejarah Pendidikan

Jika menengok sejarah pendidikan, arah yang benar sejatinya telah lama diwariskan. Ki Hadjar Dewantara merumuskan pendidikan sebagai proses menuntun, bukan memaksa: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pendidikan harus memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang.

Prinsip ini menempatkan pembentukan karakter, adab, dan etika sebagai inti pendidikan. Ilmu pengetahuan penting, tetapi menjadi bermakna justru karena ditopang oleh nilai moral. Tanpa adab, ilmu kehilangan arah dan berpotensi menjelma menjadi kekuatan yang merusak.

Asia Timur dan Pendidikan Berbasis Adab

Pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan bahwa pendidikan berbasis adab dan karakter bukanlah sesuatu yang utopis. Jepang, misalnya, pada jenjang sekolah dasar tidak menjadikan capaian akademik sebagai tujuan utama.

Ilustrasi sekolah di Jepang. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
Ilustrasi sekolah di Jepang. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Anak-anak lebih dahulu diajarkan disiplin, tanggung jawab, kerja sama, menjaga kebersihan, serta menghormati orang lain dan ruang publik. Sekolah menjadi ruang pembiasaan nilai, bukan sekadar tempat mengejar prestasi.

Dari proses tersebut lahir masyarakat yang tertib dan beretika. Bukan karena mereka lebih unggul secara intelektual sejak dini, melainkan karena adab didahulukan sebelum ilmu. Pendidikan karakter menjadi fondasi kemajuan sosial dan kebudayaan.

Cermin serupa juga dapat dilihat dari pengalaman pendidikan di Tiongkok. Meski sistem pendidikannya dikenal kompetitif dan menuntut prestasi tinggi, pendidikan karakter tetap mendapat tempat penting. Disiplin, etos belajar, rasa hormat kepada guru, dan tanggung jawab sosial ditanamkan sejak dini sebagai bagian integral dari pendidikan.

Keberhasilan pendidikan di Tiongkok tidak hanya bertumpu pada sekolah, tetapi juga pada keterlibatan aktif pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Pendidikan dipahami sebagai tanggung jawab kolektif.

Nilai-nilai tradisional yang sarat ajaran moral—seperti penghormatan kepada orang tua dan guru serta pentingnya harmoni sosial—tidak ditinggalkan, melainkan diintegrasikan dengan sistem pendidikan modern. Prestasi dan adab berjalan beriringan.

Menata Ulang Arah Pendidikan

Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Sudah saatnya arah pendidikan kita direnungkan kembali. Penguatan moral dan karakter tidak boleh berhenti sebagai jargon kurikulum, tetapi harus benar-benar dihidupkan dalam praktik pendidikan sehari-hari. Di saat yang sama, perlindungan hukum terhadap guru juga harus ditegaskan.

Perlu ada batasan yang jelas dan adil: sejauh mana guru dapat mendisiplinkan murid secara manusiawi dan bagaimana perilaku murid terhadap guru juga diatur secara etis. Perlindungan anak dan perlindungan guru bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Keduanya harus berjalan beriringan agar pendidikan bukan menjadi ruang ketakutan, melainkan sebagai ruang pembentukan manusia.

Pendidikan, Adab, dan Indonesia Emas 2045

Pendidikan sejatinya adalah proyek peradaban jangka panjang. Ia bukan sekadar urusan nilai, ijazah, atau prestasi akademik, melainkan juga ikhtiar sadar untuk membentuk manusia yang berilmu sekaligus beradab. Ketika pendidikan gagal menanamkan adab, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas sekolah hari ini, melainkan juga masa depan bangsa itu sendiri.

Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika pendidikan hanya melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral. Bonus demografi tanpa adab justru berpotensi menjadi beban sosial. Sebaliknya, generasi beradab adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa yang berkelanjutan.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target ekonomi dan teknologi. Ia adalah cita-cita peradaban. Dan peradaban yang besar hanya dapat dibangun oleh manusia-manusia yang beradab. Jika pendidikan berhasil menunaikan tugas mulianya ini, masa depan bangsa bukan sekadar harapan, melainkan juga keniscayaan.

Media files:
01kezfb342h28jbrhkg3bby4r2.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar