Menteri Keuangan AS Scott Bessent bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menjawab pertanyaan wartawan usai pembicaraan antara pejabat senior AS dan China mengenai tarif di Kedubes AS untuk Swiss, Jenewa, Minggu (11/5/2025). Foto: VALENTIN FLAURAUD/AFP
Dua pejabat Amerika Serikat (AS) yaitu Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer, tiba di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (24/10), untuk bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.
Mengutip Reuters, pertemuan ini dilakukan untuk membahas pencegahan eskalasi perang dagang dan memastikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan depan tetap berjalan.
Pertemuan yang berlangsung di sela-sela KTT ASEAN ini jadi yang kelima sejak Mei lalu. Lokasi perundingan kali ini bergeser ke Asia Tenggara, kawasan yang memiliki ketergantungan dagang tinggi dengan kedua raksasa ekonomi tersebut.
Persoalan utama yang kembali dibahas adalah dominasi China terhadap pasokan rare earth atau logam tanah jarang dunia, mineral penting untuk industri teknologi mulai dari kendaraan listrik, semikonduktor hingga sistem pertahanan. China memperketat kontrol ekspor mineral itu, sehingga AS menilai langkah tersebut sebagai upaya menekan rantai pasok global.
Dalam perundingan di Kuala Lumpur, AS akan mencoba mengembalikan status quo agar aliran magnet dan bahan baku rare earth tetap berjalan. Jika gagal, Trump diperkirakan akan mengeksekusi tarif baru sebesar 100 persen untuk barang China mulai 1 November. Pertemuan Trump dan Xi Jinping di sela KTT APEC di Korea Selatan pekan depan juga terancam batal.
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan China. Foto: Reuters/Damir Sagolj
Selain itu, AS juga menekan China kembali membeli kedelai AS setelah tak ada transaksi sepanjang September. Tekanan ini berkaitan dengan kepentingan politik Trump yang bertumpu pada suara petani Amerika.
Di Washington, pemerintahan Trump juga telah mengumumkan penyelidikan baru terkait dugaan pelanggaran kesepakatan dagang 'Phase One' yang diteken pada 2020. Langkah itu berpotensi jadi dasar hukum tambahan untuk kembali menaikkan tarif.
Meski demikian, analis menilai pembicaraan di Malaysia kecil kemungkinan menyentuh isu fundamental seperti reformasi ekonomi China yang selama ini jadi akar persoalan.
"Kita tidak bisa membahas inti masalah karena yang kita lakukan adalah meminta mereka membeli kedelai," ujar analis Center for Strategic and International Studies, Philip Luck dikutip dari Reuters, Sabtu (25/10).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar