Maraknya tindak pidana korupsi, pembunuhan yang tak pernah sepi, perilaku elit politik yang nir empati, serta perilaku hedonis yang melemahkan jati diri, membuat kita harus merenungkan etika bangsa ini.
Ungkapan "kita berdiri di persimpangan sejarah" mungkin ada benarnya untuk direnungkan. Bangsa ini tengah menghadapi ancaman senyap yang lebih berbahaya dari krisis ekonomi, yakni kekeringan moral yang ironi. Etika, yang seharusnya menjadi bahan bakar utama dan landasan karakter bangsa, kini terasa semakin menipis. Tangki Etis kolektif kita bukan lagi penuh, melainkan semakin surut bahkan nyaris kosong.
Gejala ini tak lagi tersembunyi, ia hadir di depan mata. Di lingkar kekuasaan, drama korupsi terus berulang tanpa jeda. Ini bukan semata perkara angka atau kerugian negara, melainkan tanda runtuhnya etika politik yang dulu dijunjung tinggi seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab publik. Ketika mereka yang mestinya menjadi sumber teladan dan pompa moral justru ikut menguras tangki etis bangsa, maka tak mengherankan bila rakyat menjadi sinis dan kepercayaan pun terkikis.
Di akar rumput, khususnya di kalangan generasi muda, kita melihat krisis yang sama melalui lensa yang berbeda: krisis empati dan kontrol diri di ruang digital. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat komunikasi yang beradab, seringkali berubah menjadi medan perundungan, penyebaran hoax, dan ujaran kebencian. Teknologi, tanpa filter moral yang kuat, justru mempercepat degradasi nilai-nilai sosial, melahirkan generasi yang cerdas secara digital, tetapi kehilangan rasa hormat dan rasa malu dalam interaksi sehari-hari.
Pertanyaan pun muncul. Di mana letak kesalahan mendasar kita? Jurnal-jurnal pendidikan nasional menggarisbawahi adanya disorientasi pendidikan. Sekolah-sekolah kita terlalu fokus mencetak manusia dengan kecerdasan kognitif yang tinggi, namun kurang menekankan kecerdasan emosional dan membentuk karakter. Nilai-nilai Pancasila hanya diajarkan sebagai teori, sebagai konsep, bukan sebagai kebiasaan atau cara hidup. Inilah yang menyebabkan terjadinya paradoks atau kesenjangan besar antara apa yang dipahami sebagai baik dan buruk, dengan apa yang dipraktikkan dalam perilaku sehari-hari.
Untuk itu, perlu kita sadari bahwa upaya mengisi ulang tangki etis bukanlah proyek parsial, bukan tanggung jawab satu-dua orang saja, melainkan tugas kolektif yang membutuhkan sinergi seluruh elemen negeri. Kita membutuhkan figur teladan sekaligus sistem pengendalian yang mampu memastikan tangki etis kita kembali terisi penuh.
Pengisian ini harus dimulai dari puncak dan mengalir hingga ke dasar. Para elite harus segera menghentikan kebiasaan buruk yang melukai hati rakyat, menjadikan integritas sebagai instrumen pengontrol perilaku yang mengikat, bukan sekadar hiasan konstutusi sebagai mandat. Keteladanan dari panggung kekuasaan adalah katalisator utama untuk mengembalikan optimisme moral masyarakat.
Selanjutnya, fondasi pendidikan harus diperkuat. Sekolah perlu merevitalisasi peran guru sebagai teladan moral, mengintegrasikan pendidikan karakter secara utuh, dan tidak menomorduakan hati nurani di balik nilai akademik. Pendidikan harus mencetak individu yang tidak hanya mampu bersaing secara global, tetapi juga memiliki pegangan moral yang kokoh.
Pada akhirnya, yang paling fundamental adalah kembali ke rumah. Keluarga adalah filter moral pertama dan paling utama. Orang tua harus berperan aktif membimbing anak-anak, terutama dalam penggunaan teknologi, sehingga mereka memiliki filter batin untuk menyaring arus informasi negatif. Sejalan dengan Tripusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus melibatkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Jika keteladanan elite di pemerintahan, pendidikan karakter di sekolah, dan bimbingan moral di keluarga bekerja serentak, bersinergi, dan saling mengisi, maka kita tidak hanya mampu menutup kebocoran moral, tetapi juga benar-benar mengisi ulang tangka etis hingga penuh. Dengan landasan moral yang kuat, kita dapat mewujudkan Indonesia yang tidak hanya maju dan modern, tetapi juga beradab dan bermartabat. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar