Ilustrasi Balita yang selamat dalam serangan Israel di Gaza Foto: Eyad BABA / AFP
Selama kehadiran atlet senam Israel yang akan mengikuti kejuaraan dunia di Jakarta sifatnya hanya rencana, itu tidak masalah. Dia baru bermasalah kalau Pemerintah Indonesia memberi izin kepada atlet tersebut--untuk datang dan ikut bertanding di negeri ini.
Sebab, bagaimana kita bisa menerima kehadiran atlet yang merupakan utusan resmi dari negara Israel, padahal kita tidak punya hubungan diplomatik dengan negara tersebut.
Atlet tersebut datang untuk bertanding di negara yang dikenal anti penjajahan dan sangat menghormati--serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan. Sementara Israel merupakan negara yang dikenal oleh dunia sebagai penjajah dan sangat tidak menghargai dan tidak menghormati manusia, serta nilai kemanusiaan.
Coba bayangkan operasi militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Gaza yang berlangsung selama 2 tahun terakhir, telah menewaskan sedikitnya 66 ribu orang. Belum lagi jumlah yang sakit dan luka-luka.
Apalagi kalau dilihat dampak dari serangan Israel ke Gaza, setidaknya telah menghancurkan 90 persen lebih rumah--sehingga 1,9 juta jiwa dari 2,1 juta penduduk kehilangan tempat tinggalnya.
Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita bermanis-manis dan membangun hubungan olahraga dengan negara yang tega melakukan ethnic cleansing dan genosida tersebut. Untuk itu, kehadiran atlet Israel untuk bertanding dalam kejuaraan dunia yang akan diadakan di Jakarta harus DITOLAK.
Sebab, selain bertentangan dengan amanat dan semangat konstitusi--itu juga akan membuat hati sebagian besar rakyat Indonesia terluka. Bahkan tidak hanya itu, kehadiran atlet Israel jelas akan mengundang kegaduhan di negari ini.
Padahal sekarang kita sedang membutuhkan persatuan dan kesatuan, serta suasana aman, tentram, dan damai agar kita dapat membangun Indonesia, negeri yang kita cintai ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar