Nelayan Desa Kelan, Tuban, Bali, memasang mesin listrik pada perahu, Rabu (8/10/2025). Foto: Pertamina International Shipping (PIS)
Suara deru mesin perahu di Pantai Kelan, Tuban, Bali, kini mulai terdengar lebih pelan. Di antara deretan perahu nelayan yang berlabuh, beberapa di antaranya sudah tak lagi menggunakan bensin yang biasanya berisik, melainkan tenaga listrik.
Perubahan kecil ini membuka babak baru bagi nelayan pesisir dalam menjaga laut tetap bersih tanpa mengorbankan mata pencaharian mereka.
Bagi Wayan Wirtha, nelayan Desa Kelan, yang sudah puluhan tahun melaut di Kelan, perbedaan itu terasa nyata.
"Kalau bensin sekarang susah dan mahal, harus pakai surat. Kalau suratnya mati, enggak bisa beli bensin. Kalau mesin ini, di-charge aja di rumah atau di PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sini," katanya di Rumah Apung, Hutan Mangrove, Tuban, Bali, Rabu (8/10).
Nelayan Desa Kelan, Bali, Wayan Wirtha, diRumah Apung, Hutan Mangrove, Tuban, Bali, Rabu (8/10/2025). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Ia bercerita, mesin listrik bantuan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina International Shipping (PIS) ini sudah beberapa kali diuji coba. Dari hasilnya, perahu bisa menempuh jarak hingga Tanjung Benoa tanpa kendala berarti.
"Ketahanannya sampai satu setengah baterai. Kalau jalannya cepat, ya, lebih cepat habis. Tapi kalau santai, bisa lebih lama," lanjut Wayan.
Mesin ini, lanjutnya, jauh lebih tenang dibanding mesin bensin. Tak ada suara bising, tak ada bau bahan bakar. Namun, bukan berarti tanpa tantangan.
"Gigi mundurnya belum kuat. Itu penting kalau bawa tamu atau mau parkir kapal. Semoga nanti bisa disempurnakan," tambahnya.
Meski begitu, Wayan mengaku tetap bersyukur. Dengan biaya operasional yang jauh lebih hemat, ia bisa menyisihkan uang bensin untuk kebutuhan rumah tangga.
Nelayan Desa Kelan, Tuban, Bali, memasang mesin listrik pada perahu, Rabu (8/10/2025). Foto: Pertamina International Shipping (PIS)
Dari Deru Bensin ke Daya Baterai
Program mesin kapal listrik di Desa Kelan merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari Keluarga Nelayan Lestari (DEB KeNaLi), kolaborasi antara PIS dan Divers Clean Action (DCA).
Program yang diluncurkan sejak 2024 ini dirancang untuk menjawab tantangan masyarakat pesisir dalam menghadapi keterbatasan energi, tekanan ekonomi, dan dampak perubahan iklim.
Sejak dijalankan, program ini telah melibatkan 117 anggota masyarakat dan 161 rumah tangga di Desa Kelan. Mereka kini menikmati manfaat konkret, mulai dari pengurangan emisi hingga 62 kilogram CO₂ hanya dalam dua bulan pemakaian mesin listrik, peningkatan pendapatan, hingga terbentuknya usaha mikro berbasis sumber daya lokal seperti ecotrip mangrove dan olahan ikan laut.
"Bali kami pilih karena kesadaran lingkungannya tinggi dan nelayannya terbuka terhadap inovasi. Kami ingin membuktikan bahwa energi bersih bisa diterapkan di semua level, termasuk nelayan kecil," kata Manager CSR PIS, Alih Istik, di lokasi yang sama.
Teknologi Bersih untuk Laut yang Lestari
Managing Director Divers Clean Action (DCA) Amrullah Rosadi (kiri) dan Founder Azura Indonesia Nadea Nabilla (kanan) di Desa Kelan, Bali, Rabu (8/10/2025). Foto: PIS
Di balik mesin listrik itu, ada inovasi karya anak muda Indonesia. Nadea Nabilla, Founder Azura Indonesia, mengembangkan motor listrik berkapasitas 3.000 watt hour yang dapat diisi selama dua jam dan digunakan 3–4 jam melaut sejauh 15 nautical miles.
"Kami ingin teknologi ini benar-benar bisa dipakai di lapangan, bukan hanya di pameran. Jadi kami turun langsung melihat bagaimana nelayan bekerja, seberapa jauh mereka melaut, dan bagaimana pola penggunaan energinya," kata Nadea.
Selain efisien, biaya operasionalnya jauh lebih ringan. "Per trip, biaya bisa 70 persen lebih hemat dibanding pakai bensin. Biasanya mereka habis Rp 60 ribu untuk 5 liter bensin, sekarang cukup Rp 8 ribu hingga 10 ribu buat nge-charge baterai," jelas Nadea.
Mesin ini juga ramah lingkungan dan nyaris tanpa suara, membuat kegiatan nelayan maupun wisata susur mangrove menjadi lebih nyaman. Bukan cuma di Bali, mesin listrik bagi perahu nelayan ini juga di berbagai daerah.
"Sampai sekarang kami sudah menjual 38 unit dan beroperasi di enam lokasi: Jambi, Pulau Seribu, Bali, Lombok, dan Banyuwangi. Di Bali sendiri ada 16 unit," terangnya.
Mesin listrik untuk nelayan buatan Azura Indonesia. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Mendorong Transisi Energi dari Pesisir
Manager CSR PIS, Alih Istik, menjelaskan program DEB KeNaLi menjadi proyek percontohan integrasi energi terbarukan di tingkat komunitas nelayan. Selain mesin listrik, PIS juga menyiapkan solar charging station untuk pengisian baterai perahu serta pelatihan pengelolaan ekowisata mangrove.
"Dengan mesin listrik ini, nelayan bisa menghemat biaya hingga lebih dari 70 persen dan mengurangi emisi karbon lebih dari 78 persen, karena pengisian dayanya pun berasal dari energi surya," tambah Alih.
Tak hanya itu, ibu-ibu nelayan juga dilatih mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah, seperti abon ikan dan kuliner blue food, serta diberikan pelatihan literasi keuangan agar lebih mandiri secara ekonomi.
CSR Manager Pertamina International Shipping (PIS) saat peluncuran mesin listrik bagi Keluarga Nelayan Lestari (KeNaLi) Desa Kelan, Bali, Rabu (8/10/2025). Foto: PIS
Program KENALI mengusung tiga pilar utama. Pertama, Renewable Energy yaitu penerapan mesin kapal listrik dan pembangunan stasiun pengisian tenaga surya. Kedua, Community Empowerment seperti pelatihan ekowisata, blue food, dan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Ketiga, Financial Literacy yakni pemberdayaan perempuan nelayan melalui literasi keuangan dan dukungan usaha mikro.
Menurut Managing Director Divers Clean Action (DCA) Amrullah Rosadi, sinergi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga ekonomi lokal.
"Kami berharap program ini menjadi solusi bagi permasalahan pesisir. Tidak hanya menjaga kelestarian alam, tapi juga menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakatnya," ujarnya.
Perahu nelayan menggunaan mesin kapal listrik di Desa Kelan yang merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari Keluarga Nelayan Lestari (DEB KeNaLi), Rabu (8/10/2025). Foto: PIS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar