ATRUTH Social, platform media sosial milik Donald Trump. Foto: Chris Delmas/AFP
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mendesak raksasa teknologi Microsoft untuk memecat Presiden Urusan Global (President of Global Affairs) mereka, Lisa Monaco. Trump menyebut Monaco sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa penunjukan Monaco ke posisi tersebut mengejutkan. Ia berpendapat bahwa jabatan itu memberikan Monaco akses luas ke informasi yang sangat sensitif, terutama mengingat banyaknya kontrak besar yang dimiliki Microsoft dengan pemerintah AS.
"Memberi Monaco akses seperti itu tidak dapat diterima dan tidak boleh dibiarkan. Dia merupakan ancaman bagi Keamanan Nasional AS, terutama mengingat kontrak-kontrak besar yang dimiliki Microsoft dengan Pemerintah Amerika Serikat," tulis Trump.
Pihak Microsoft menolak memberikan komentar terkait seruan Trump ini.
Monaco sebelumnya menjabat sebagai Wakil Jaksa Agung AS di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden. Selama masa jabatannya, ia terlibat dalam menangani respons Kejagung AS terhadap berbagai tantangan keamanan nasional, termasuk serangan terhadap Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021 oleh para pendukung Trump.
Unggahan Trump mengenai Monaco ini muncul sehari setelah mantan Direktur FBI, James Comey, didakwa. Comey didakwa atas tuduhan membuat pernyataan palsu kepada Kongres dan menghalangi proses peradilan terkait penyelidikan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum 2016.
Trump merayakan dakwaan terhadap Comey, yang merupakan salah satu tokoh kunci dalam penyelidikan dugaan kolusi antara kampanyenya dengan Rusia pada pemilu 2016.
Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Jeenah Moon/REUTERS
Lebih lanjut, Trump mengisyaratkan lawan-lawan politiknya yang lain mungkin akan menghadapi tuntutan hukum, meskipun ia tidak secara spesifik menyebutkan nama.
"Saya pikir akan ada yang lain," kata Trump kepada wartawan, mengutip Politico.
Aksi ini pun bukan pertama kalinya dilakukan Trump. Ia sebelumnya juga pernah menuntut perusahaan swasta lainnya untuk mencopot nama sosok yang mereka tunjuk.
Pada Agustus lalu, ia menyebut CEO Intel, Lip Bu Tan, sebagai sosok yang tak cocok untuk memimpin perusahaan chip AS itu karena dianggap loyal kepada China.
CEO itu segera mengunjungi Gedung Putih, setelah itu Trump memuji kualitas kepemimpinannya, sebelum menyepakati kesepakatan yang membuat pemerintah AS mengambil 10 persen saham di Intel sebagai imbalan atas hibah yang sebelumnya disahkan dalam CHIPS Act.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar