Sampah menggunung tampak di depo sampah Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Jumat (19/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Gunungan sampah di depo sampah Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, mencapai 2 meter, Jumat (19/9).
Timbunan sampah ini berbau menyengat dan dipenuhi lalat. Bau ini berdampak pada sejumlah pedagang bunga yang persis berada di samping sisi selatan depo.
"Tambah banyak (sampah akhir-akhir ini)," kata Agus, salah seorang pedagang bunga di Kotabaru.
Agus mengatakan tumpukan sampah di depo ini sudah ada sejak lama dan tak kunjung teratasi.
"Sejak lama. Belum ada (pengurangan) sama sekali," jelasnya.
Saat ini dia masih menunggu inovasi dari pemerintah agar masalah tumpukan sampah di depo bisa terselesaikan.
"(Harapan) segera diatasi. Dampak baunya, lalat juga," terangnya.
Sampah menggunung tampak di depo sampah Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Jumat (19/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pemkot Yogya Fokus Tangani Sampah
Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogya) tengah fokus mengatasi tumpukan sampah di depo-depo sampah.
Salah satu cara yang ditempuh adalah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Yogya diminta ikut menangani sampah.
"Terjemahan lapangannya adalah semua dinas adalah 'Dinas Lingkungan Hidup' sekarang. Artinya masing-masing memiliki tanggung jawab untuk mendampingi wilayah kelurahan," kata Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono, ditemui di Auditorium Magister Manajemen UGM, DIY, Kamis (18/9).
Kelik, sapaan akrab Trihastono, mengatakan OPD ini termasuk kemantren atau kecamatan. OPD yang besar mendampingi dua kelurahan.
Sementara OPD yang kecil mendampingi satu kelurahan. Jumlah kelurahan di Kota Yogyakarta sekitar 45. Sementara jumlah OPD termasuk kecamatan atau kemantren mencapai 50-an.
Setiap OPD bekerja di luar tugas pokok dan fungsi. Mereka harus terjun langsung ke masyarakat untuk memastikan gerakan pemilahan sampah berjalan.
"Kemudian kalau dulu kita hanya mengenal sampah organik dan anorganik, sekarang kita harus fokus lagi ke sampah organik basah dan organik tidak basah," jelasnya.
Contohnya yang basah misalnya sisa-sisa makanan. Sampah jenis itu memungkinkan untuk dijadikan pakan ternak.
"Yang nonbasah seperti sisa sayur yang tua yang tidak dimasak. Itu ada offtaker juga yang komitmen diambil untuk pakan ternak," katanya.
Sampah menggunung tampak di depo sampah Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Jumat (19/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Penyebab Tumpukan Sampah di Depo
Sebelumnya sampah juga tampak menumpuk di depo sampah Brigjen Katamso, Kota Yogyakarta, Selasa (16/9). Di sana tertulis spanduk "Masyarakat Jogja Menagih Janji".
Terkait hal ini Wali Kota Yogya Hasto Wardoyo mengatakan mulai September TPST Piyungan hanya bisa menerima 600 ton sampah per bulan dari Kota Yogya. Padahal produksi sampah di Kota Yogyakarta 300 ton per hari.
"Sehingga kami ini harus berupaya bagaimana menghabiskan sampah yang ada agar tidak ke Piyungan," kata Hasto di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (16/9).
Sampah tampak menumpuk di depo sampah Brigjen Katamso, Kota Yogyakarta, Selasa (16/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pilah Sampah Sisa Makanan
Hasto mengatakan sedang berusaha keras supaya sisa makanan dari dapur tidak dibawa ke depo.
Sampah sisa makanan di Kota Yogyakarta dalam sehari hampir 100 ton sendiri. Itu terdiri dari rumah tangga hingga restoran. Sampah ini akan dipilah.
"Sampah ini akan dipilah dengan cara membagi ember ke warga. Kemudian ember itu maksudnya supaya (sisa) makanan di dapur masuk ember situ saja jangan disatukan dengan sampah lain," bebernya.
Sampah sisa makanan lalu akan diambil petugas ke rumah-rumah. Hasto akan mengerahkan Satpol PP hingga Linmas untuk membantu program ini.
"Bergerak jemput sampah ke rumah khusus yang organik basah," bebernya.
Sisa makanan itu dapat diolah menjadi pakan ternak hingga budidaya maggot.
"Sisa makanan itu ada yang bisa dimanfaatkan untuk ternak, budidaya maggot. Ini kondisi cukup darurat," bebernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar