Warga ibu kota Afghanistan terus menghadapi kesulitan berat akibat krisis air yang semakin parah. Foto: REUTERS/Sayed HassibUntuk mendapatkan air, Assadullah harus berjalan setengah jam ke sumber terdekat dan mengantre dengan puluhan orang lainnya. "Terkadang kami mendapat air, terkadang tidak. Foto: REUTERS/Sayed HassibDilansir dari Reuters, menurut Jaringan Analis Afghanistan, air tanah di Kabul berpotensi habis pada 2030. Foto: REUTERS/Sayed HassibIa menekankan perlunya efisiensi penggunaan air di rumah tangga, pembangunan sumber air baru di tiap distrik, serta pengawasan lebih ketat terhadap pengguna besar. Foto: REUTERS/Sayed Hassib
Foto: Kekeringan Berkepanjangan, Warga Kabul, Afghanistan, Krisis Air Bersih. Warga ibu kota Afghanistan terus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih akibat krisis air yang semakin parah. Assadullah, seorang pemilik toko di Kabul, setiap hari harus berjuang menyediakan air bagi keluarganya yang berjumlah 13 orang, sejak sumur di rumah mereka mengering empat tahun lalu.
Untuk mendapatkan air, Assadullah harus berjalan setengah jam ke sumber terdekat dan mengantre dengan puluhan orang lainnya. "Terkadang kami mendapat air, terkadang tidak. Prosesnya tidak menentu, bisa memakan waktu dua hingga tiga jam, lalu kami harus membawa pulang tong-tong air itu," ujarnya. Dalam sehari, ia harus mengambil air 3-4 kali, membuatnya kelelahan hingga anak-anaknya tidak lagi bersekolah.
Dilansir dari Reuters, menurut Jaringan Analis Afghanistan, air tanah di Kabul berpotensi habis pada 2030. Kondisi serupa juga dialami sejumlah kota lain di Afghanistan yang dilanda kekeringan berkepanjangan. "Sungai Kabul dulunya hanya kering 15 persen dalam setahun, tetapi kini kering selama enam hingga delapan bulan," kata pakar sumber daya air, Najibullah Sadid. Ia menekankan perlunya efisiensi penggunaan air di rumah tangga, pembangunan sumber air baru di tiap distrik, serta pengawasan lebih ketat terhadap pengguna besar.
Seorang anak laki-laki mengawasi seekor anjing sambil berdiri di dasar sungai Kabul yang mengering, di tengah krisis air yang parah di Kabul, Afghanistan. Foto: REUTERS/Sayed Hassib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar