Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Sejumlah kendaraan berotator masih tampak melintas di beberapa ruas jalan Jakarta. Bahkan, tak sedikit kendaraan berpelat sipil yang menggunakan rotator dan ingin didahulukan.
Salah seorang warga, Hilman (40), mengaku kerap terganggu dengan kendaraan berotator. Menurut dia, setiap pengguna jalan memiliki hak yang sama dalam berkendara.
"Ya sebenarnya, sih, saya enggak begitu respect, ya, maksudnya kita kan semua bayar pajak, ya. Ya merasa ini lah, kesannya kayak dia itu diutamakan," kata Hilman saat ditemui kumparan, di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (19/9).
"Padahal, mah, kita sama seharusnya, kan. Saya sebenarnya enggak respect aja kayak gitu," jelas dia.
Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Ia mengaku terkadang mesti memberi jalan kepada kendaraan berotator tersebut. Meskipun sejatinya tidak ingin didahulukan oleh kendaraan tersebut.
"Kalaupun dibiarin ataupun dihalangin kita juga ngeri, gitu, kan. Ya mau enggak mau kasih lewat juga lah. Walaupun, ya, enggak pengin, sih, kayak gitu, kan," tutur dia.
"Kalau memang bisa, dikasih jalan. Sebenarnya kalau kita enggak kasih jalan kita juga tahu sendiri dia itu, kan, kayak gimana itu, kan, malah yang ada kita bahaya gitu. Lebih baik kasih jalan, sih," imbuhnya.
Kendaraan berotator melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (19/9/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
Sementara itu, salah seorang kurir pengantar paket, Yudi (34), menyebut tidak setiap kendaraan berotator mesti diberikan prioritas di jalan.
Ia merasa terganggu saat kendaraan yang tidak berhak untuk menggunakan rotator dan meminta didahulukan oleh pengendara lain.
"Ya kalau misalkan itu, sih, kalau masalah emang udah kewajibannya, emang udah ketentuannya, ya enggak masalah. Tapi, kalau di luar itu ya masalah," ucap Yudi kepada kumparan.
Yudi menyebut, setiap pengendara memiliki kebutuhan dan kepentingannya masing-masing. Oleh karenanya, ia menekankan tidak ada keharusan baginya untuk memprioritaskan kendaraan berotator yang tidak berhak didahulukan.
Kendaraan berotator melintas di ruas Tol Dalam Kota, Jumat (19/9/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
"Karena, kan, yang punya kepentingan, jalan umum kan, ya semua punya kebutuhan masing-masing. Jadi, ya selain di luar jalur kepentingan sih lebih baik enggak usah," ujar Yudi.
"Ya yang jelas, sih, lebih diduluin ya kalau misalnya ambulans atau polisi yang emang udah haknya, ya, enggak masalah. Takutnya ada banyak banget yang minta diduluin segala macam, yang di luar itu," paparnya.
Lebih lanjut, Yudi kerap mengalami sejumlah kendaraan berotator yang minta didahulukan saat kondisi jalanan tengah macet.
"Sering, kalau pas macet mah sering [minta didahulukan]. Kalau bisa saya duluin, ya saya duluin. Karena, kan, saya kurir, harus buru-buru juga," pungkasnya.
Stiker gerakan Stop Sirene dan Strobo di Jalan. Foto: Dok. Istimewa
Gerakan warga menolak sirene dan strobo alias "tot-tot wuk-wuk" tidak pada tempatnya viral setelah demo rusuh pada akhir Agustus 2025.
"Hidupmu dari pajak kami. STOP strobo dan sirene," begitu antara lain meme/stiker yang dibagikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar