Search This Blog

Mau Dibawa ke Mana Pendidikan Tinggi Indonesia?

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mau Dibawa ke Mana Pendidikan Tinggi Indonesia?
Aug 9th 2025, 12:04 by Budi Waluyo

Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock
Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock

Di berbagai sudut kota besar hingga pelosok kota kecil, kini mudah sekali kita jumpai baliho besar dengan tulisan mencolok: "The Only One Kampus Negeri Tanpa Seleksi". Slogan ini seolah menjanjikan gengsi "Negeri" tanpa harus bersusah payah. Cukup daftar, bayar, lalu duduk di bangku kuliah. Simpel. Namun di balik kemasan manisnya, ini menyisakan pertanyaan serius adalah "Mau dibawa ke mana sebenarnya arah pendidikan tinggi kita?"

Fenomena lain yang tak kalah menggelitik adalah tawaran kuliah tanpa skripsi. Bagi sebagian calon mahasiswa, ini mungkin terdengar seperti anugerah, bebas dari momok penelitian akhir yang menguras pikiran, waktu, dan tenaga. Namun di sisi lain, bukankah skripsi atau karya akhir adalah salah satu bentuk latihan berpikir kritis, kreativitas, dan membangun fondasi akademik yang kokoh?

Di atas kertas, potret pendidikan tinggi kita sudah "tampak" menawan. Tingginya IPK lulusan, melonjaknya persentase mahasiswa cumlaude, dan persentase kelulusan tepat waktu yang "wah" membuat seolah-olah kualitas pendidikan kita sedang berada di puncak kejayaan. Namun kenyataannya, data PISA (Programme for International Student Assessment) justru menunjukkan tren penurunan kualitas kemampuan literasi, numerasi, dan sains mahasiswa Indonesia selama lima tahun terakhir.

Trend penurunan skor Pisa Indonesia dalam 15 tahun terakhir (Sumber: https://himiespa.feb.ugm.ac.id/)
Trend penurunan skor Pisa Indonesia dalam 15 tahun terakhir (Sumber: https://himiespa.feb.ugm.ac.id/)

Belum lagi deretan kasus perguruan tinggi besar, baik negeri maupun swasta, yang masuk kategori red flag atau orange flag karena integritas akademik. Ditambah lagi, beberapa isu plagiasi untuk meraih jabatan guru besar pun ikut menjadi noda yang tak kunjung hilang dari wajah pendidikan tinggi kita. Semua ini membentuk sebuah paradoks: "tampilan luar yang mempesona, tapi kualitas substansialnya dipertanyakan".

Lalu, di mana letak sumber masalahnya? Jawabannya mungkin ada pada pragmatisme yang sudah mengakar. Kita terlalu terpikat pada hal-hal simbolik, gelar, status, angka IPK, atau persentase kelulusan. Sementara esensi pendidikan, yakni membentuk karakter pembelajar sejati, tertinggal jauh. Kondisi ini diperparah oleh kualitas pendidikan dasar hingga menengah yang belum mampu menyiapkan pondasi berpikir logis dan karakter belajar yang tangguh.

Jika pola ini terus berlanjut, "bonus demografi" yang digadang-gadang akan menguntungkan Indonesia dalam 2–3 tahun ke depan justru berpotensi berubah menjadi beban demografi. Bahkan, bukan tidak mungkin kita menghadapi bencana kemanusiaan jika lulusan pendidikan tinggi hanya mengandalkan simbol-simbol kosong tanpa kompetensi nyata.

Sudah saatnya semua pemangku kepentingan, pemerintah, kampus, dosen, mahasiswa, dan masyarakat berhenti sekadar mengejar kemasan. Pendidikan tinggi harus kembali ke tujuan sejatinya yaitu membentuk manusia berpengetahuan, berkarakter, dan siap membangun masa depan bangsa, bukan sekadar mencetak gelar tanpa makna.

Media files:
01ghzxwy9kcv4ch0phph58h0yn.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar