Pengemudi ojek daring kendaraan listrik GrabElectric menunggu calon pengguna di Jakarta, Selasa (12/7/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Fenomena pabrikan sepeda motor listrik membuka sewa hak milik untuk mitra ojek online (ojol) kian marak. Utamanya karena angka penjualan yang anjlok, buntut tidak adanya kepastian lanjutan kebijakan subsidi dari pemerintah.
Sejumlah merek menawarkan program sewa motor listrik hingga menjadi hak milik mitra. Mulai dari MAKA Motors, Smoot, ECGO, United, hingga Volta.
Awak kumparan mencoba layanan ojek online elektrik dari salah satu aplikasi dan berbincang dengan mitra driver. Perjalanan dimulai dari stasiun kereta api Pasar Minggu, mitra tersebut menunggangi sepeda motor listrik Smoot DeSultan.
Biaya Sewa Tanpa Baterai
Berdasarkan penuturan driver, motor tersebut ia sewa lantaran tidak memiliki sepeda motor lain. Alhasil, ia menyewa sekitar Rp50.000 per hari agar tetap bisa mencari nafkah.
"Iya saya memang lagi gak ada motor. Jadi sewa motor ini sehari gocap (Rp 50 ribu)," kata mitra ojol yang enggan disebut namanya.
Menariknya, motor yang disewa akan menjadi milik mitra di akhir periode penyewaan. Adapun lama waktu sewa mencapai 20 bulan, alias hampir dua tahun.
"Ini sewa tapi jadi hak milik. Jadi, sewa berapa bulan gitu, nanti jadi hak milik kita. Kalau cash saya gak tau harganya, tapi kalau dihitung sewa Rp 50 ribu per hari, 20 bulan kira-kira jadi Rp 30 jutaan (harga motor)," sambungnya.
Seorang pengemudi ojek daring mengganti baterai motor listriknya di SPKLU Gedung PLN Gambir, Jakarta, Rabu (13/0/2022). Foto: Agha Yuninda/ANTARA FOTO
"Setiap hari Minggu saya libur. Nanti kalau kuat (bayar sewa) ya terusin, kalau gak kuat ya sudah. Tapi karena bayarnya setiap hari, ya gak berasa," kata pria yang berusia kisaran 45 tahun tersebut.
Akan tetapi, bukan hanya biaya sewa motor saja yang membuatnya harus merogoh kocek setiap hari. Baterai yang digunakan motor tersebut pun sistem sewa, sehingga ia harus membayar ekstra Rp25.000 per harinya.
"Sewa Rp 50 ribu itu belum sama baterai, jadi baterai bayar lagi Rp 25 ribu per hari, bebas mau tukar (baterai) berapa kali. Sehari ya jadi Rp 75 ribu," imbuhnya.
Lantas, bagaimana dengan pendapatan harian jika harus membayar sebesar Rp75.000 per hari? "Ada aja sih, sekitar Rp 50-100 ribu. Ya buat biaya anak sekolah sama makan sehari-hari saja,"
Minim Perawatan
Ragam pabrikan menawarkan biaya paket sewa yang berbeda. Misal, dari Semolis yang bekerjasama dengan Volta menetapkan biaya sewa Rp 40 ribu per hari selama 660 hari dan baterai Rp 7.500 per sekali tukar. Sementara, motor ECGO yang disediakan LABA memerlukan biaya sewa motor Rp 40 ribu dan sewa baterai Rp 15.000 per hari.
"Banyak yang sudah pakai (sewa motor listrik), ada juga Electrum. Tapi kalau Electrum gak jadi hak milik, lebih mahal juga per harinya. Saya pakai ini (Smoot DeSultan) baru sebulan, sebelumnya juga pakai Electrum," ujarnya.
Ia pun menyampaikan alasan dirinya dan sejumlah mitra ojol lain menggunakan skema sewa motor listrik hak milik. Utamanya karena motor listrik dinilai lebih minim perawatan dan bisa tukar baterai.
"Alasan pilih sewa motor, paling utamanya sih karena minim perawatan. Gak perlu ganti oli, tinggal pakai saja. Sehari rata-rata tiga kali tukar baterai, kalau lagi 'gacor' bisa empat kali. Kalau sepi kadang cuma satu kali saja sehari," jelasnya.
"Sebenarnya saya ingin juga balik lagi pakai motor biasa, tapi belum ada lagi motornya," tutupnya.
Berdasarkan penjelasan mitra ojol tersebut, memanfaatkan sewa motor listrik sebagai armada narik bisa jadi opsi cadangan. Terlebih lagi jika mitra tersebut tidak memiliki kendaraan, namun ingin menjadi mitra ojol.
Adapun hal yang perlu dicatat, yakni biaya sewa memakan pendapatan harian dari total saldo yang masuk ke mitra. Sebagai contoh, dalam satu hari mitra mengantongi penghasilan Rp 150.000, akan dipotong untuk membayar sewa sebesar Rp 75.000. Alhasil, ia hanya membawa pulang Rp 75.000 saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar