Suasana di SMAN 3 Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/6/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Bandung menjadi sekolah favorit yang meloloskan banyak siswa ke perguruan tinggi terkemuka. Namun, kini, hanya 2 siswa yang diterima di Universitas Indonesia (UI) melalui jalur Prestasi dan Pemerataan Belajar (PPKB).
Sejak duduk di kelas 1 SMA, Syalsa (18 tahun) telah berusaha untuk belajar dengan tekun demi mempertahankan nilai rapornya. Ia juga sering mengikuti kelas tambahan yang disediakan pihak sekolah agar bisa lolos di Fakultas Hukum UI.
Suasana di SMAN 3 Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/6/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Kini, hanya tersisa kenyataan pahit yang mengiris hatinya. Tanggal 16 Juni 2025 yang seharusnya menjadi kabar baik untuknya berubah jadi kekecewaan karena dirinya ditolak UI.
"Pastinya sedih, tapi jangan berlarut-larut sedihnya karena masih banyak PTN yang membuka jalur mandiri lainnya termasuk UI sendiri. Setelah itu saya renungkan diri apa usaha saya masih belum cukup ya karena sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya tetap ketolak," kata Syalsa kepada kumparan, Jumat (20/6).
Suasana di SMAN 3 Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/6/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Meskipun ditolak, harapan untuk diterima di universitas lainnya masih tumbuh di dalam hati Syalsa. Saat ini, dirinya masih menunggu pengumuman dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Diponegoro (Undip).
"Setiap orang tuh udah direncanain jalannya sama Allah, jadi walaupun ketolak beberapa kali mungkin ini bukan jalan terbaik buat saya dari Allah. Sekarang sedang menunggunya pengumuman dari PTN lain (Unpad dan Undip) dan proses pendaftaran PTS juga," ucap Syalsa.
Kisah Siswa yang Lolos
Suasana di SMAN 3 Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/6/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Berbeda dari Syalsa, Atirah (17) adalah salah satu dari 2 siswa yang lolos PPKB UI dari SMAN 3 Bandung. Atirah diterima UI di program studi vokasi Okupansi Terapi.
Mulanya, ia tak berencana untuk mendaftar ke UI, tetapi selagi ada kesempatan Atirah akhirnya mencoba.
Hanya dalam waktu tiga hari, ia mengumpulkan berbagai referensi untuk menulis esai dari alumni SMAN 3 Bandung yang diterima di UI lewat PPKB. Menurutnya, ada tiga orang lebih yang keterima PPKB UI Vokasi pada tahun lalu.
"Terus akhirnya aku cuma punya 2 sampai 3 hari buat ngerjain esai, yang sebelumnya aku gak tahu sama sekali buatnya kayak gimana. Aku akhirnya cari-cari ke sosial media yang tahun lalu lolos," cerita Atirah.
Menurut Atirah, untuk diterima di PPKB UI tidak hanya berfokus pada bobot nilai rapor, tetapi juga prestasi akademik dan non-akademik. Atirah sendiri berprestasi di bidang tahfidz Quran.
"Jadi gak pure nilai gitu, tapi ada sertifikat prestasi juga. Jadi itu sebenarnya opsional aja sih. Kalau misalnya emang punya prestasi boleh, alhamdulillah aku ada prestasi non-akademik, dimasukin," kata Atirah.
Penjelasan UI
Ilustrasi Mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Foto: Universitas Indonesia
Plh Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia (UI), Emir Chairullah, menjelaskan perubahan besar dalam skema seleksi Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB) tahun 2025.
Salah satu alasannya adalah pengurangan bobot status "sekolah favorit".
"Jika sebelumnya faktor penghitung PPKB itu faktor sekolah, jadi misal sekolah favorit, misalnya SMA 8 banyak yang pernah masuk sini, IPK-nya bagus-bagus, itu biasanya dinilai tinggi. Jadi masuk ke konteks favorit," ujar Emir.Plh Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia (UI), Emir Chairullah. Foto: Dok. FISIP UI
Namun, Emir menekankan, status sekolah favorit kini tak lagi menentukan karena dinilai menutup akses siswa berprestasi dari berbagai daerah lainnya.
Sejauh ini, ada dua sekolah unggulan yang sudah menyatakan tak ada siswanya yang diterima UI via PPKB, yakni SMAN 28 dan SMAN 70 Jakarta. Sementara SMAN 3 Bandung hanya 2 siswa yang diterima.
Sejauh ini, UI mencatat 581 sekolah dari 143 kabupaten/kota berhasil diterima jalur PPKB. Total pendaftar mencapai 15.462 orang, dengan jumlah siswa diterima sebanyak 1.602
Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya terdapat 12.810 pendaftar, 1.859 diterima, dari 445 sekolah di 90 kabupaten/kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar