Search This Blog

Ibu Hamil di Cianjur Ditandu Pakai Sarung dan Bambu Sejauh 3 Km untuk Melahirkan

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Ibu Hamil di Cianjur Ditandu Pakai Sarung dan Bambu Sejauh 3 Km untuk Melahirkan
May 19th 2025, 12:37 by kumparanNEWS

Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa
Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa

Keringat mengucur deras dari wajah Nur Aida (25). Sambil menahan rasa sakit, ibu hamil asal Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu terus mengatur napasnya di dalam tandu seadanya yang membawa dia menuju puskesmas terdekat.

Nur bakal segera melahirkan, namun puskesmas yang dituju cukup jauh dari rumahnya. Warga bahu-membahu menolong Nur. Mereka menggunakan tandu yang dibuat dari kain sarung lalu dikaitkan ke dua bilah bambu.

Kondisi jalan berlumpur dan berbatu membuat warga setempat harus bersusah payah saat melintasi jalan kabupaten itu.

Ketua RW 04, Desa Mulyasari Hadim (40) mengatakan hancurnya akses jalan utama di wilayahnya mengharuskan Nur ditandu dengan alat seadanya pada Rabu (14/5) lalu.

"Awalnya ibu hamil itu sudah merasakan mulas, pertanda akan melahirkan karena sudah masuk bulannya. Karena lokasi puskesmas jauh, terpaksa kita tandu menggunakan alat seadanya," kata Hamid kepada wartawan, Minggu (18/5).

Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa
Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa

Hamid mengungkapkan, sejumlah warga dan kerabat Nur harus bergantian menandu melintasi jalanan berlumpur dan berbatu.

"Akses jalan yang hancur menyulitkan untuk dilintasi menggunakan mobil, dilintasi motor saja sulit. Jadi warga terpaksa menandu ibu hamil ini menuju puskesmas, bahkan jika tidak segera, hampir melahirkan di jalan," jelasnya.

Hamid menyebutkan, setelah menempuh jalan sejauh 3 kilometer dengan kondisi berlumpur dan berbatu, akhirnya warga sampai di titik penjemputan oleh mobil.

"Setibanya di titik penjemputan, Nur Aida langsung dibawa ke puskesmas. Namun lantaran pihak puskesmas tak sanggup menangani, ibu hamil ini dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Sukabumi," ujarnya.

Saat dalam perjalan ke rumah sakit di Sukabumi, lanjut Hamid, Nur sudah tidak tahan, bahkan kepala bayinya sudah terlihat sehingga dibawa ke puskesmas terdekat.

"Tadinya dirujuk ke rumah sakit di Sukabumi, tapi ternyata di perjalanan kepala bayinya sudah nongol. Beruntungnya ada puskesmas lain yang dekat di perjalanan. Masih dapat ditangani di puskesmas kedua ini, proses persalinan lancar."

"Anak pertama dari Nur Aida lahir dengan selamat, anaknya perempuan. Kalau tidak ada puskesmas terdekat di perjalanan mungkin melahirkan di jalan di dalam mobil," tuturnya.

Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa
Sejumlah warga di Desa Mulyasari, Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur terpaksa menandu ibu hamil yang akan melahirkan saat menuju ke puskesmas akibat akses jalan yang hancur berlumpur dan berbatu. Foto: Dok. Istimewa

Bukan yang Pertama Terjadi

Sementara itu, Kepala Desa Mulyasari, Ade Rustandi, mengatakan, peristiwa itu bukan yang kali pertama terjadi di wilayahnya.

Peristiwa ibu hamil ditandu untuk sampai ke puskesmas bukan yang kali pertama tetapi sudah sering terjadi, termasuk menandu warga yang sakit," ungkap Ade.

Ade kesulitan untuk membangun akses jalan utama warga di wilayahnya karena keterbatasan anggaran.

"Anggaran dana desa setiap tahunnya hanya Rp 800 juta untuk berbagai urusan, sedangkan jalan yang masih rusak mencapai puluhan kilometer. Karena harus rambat beton, kalau aspal cepat rusak," ucapnya.

Ade berharap, pemerintah daerah maupun pusat segera membangun akses jalan di wilayahnya untuk menunjang aktivitas keseharian warga setempat.

"Pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat harus ada solusi untuk desa kami yang di pelosok ini supaya warga tidak kesulitan lagi untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan lainnya," harap Ade.

Media files:
01jvkdcqv59m0g91t118ryptm4.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar