Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna di kantornya, Selasa (15/4/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tengah mengkaji syarat perusahaan yang akan melantai di papan bursa melalui Initial Public Offering (IPO). Salah satu poin dalam pembahasan itu adalah peraturan mengenai free float atau jumlah saham yang bisa dibeli publik setelah perusahaan melaksanakan IPO.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, porsi saham yang dapat ditransaksikan oleh publik menjadi salah satu tolak ukur bagi perusahaan tercatat.
Meski demikian, menurutnya hal lain yang tak kalah penting yaitu kondisi fundamental perusahaan baik aspek keuangan maupun operasional, aspek legal, tata kelola, aspek bisnis dan potensi pertumbuhan ke depan.
Sejauh ini BEI telah menetapkan persyaratan mengenai minimum free float bagi perusahaan tercatat. Namun, untuk meningkatkan kualitas perusahaan tercatat, Nyoman mengatakan akan adaptif dengan dinamika pasar.
"Saat ini, BEI tengah mengkaji penyempurnaan regulasi pencatatan saham, termasuk penyesuaian beberapa persyaratan minimum pencatatan saham di antaranya free float pada saat dan setelah IPO," kata dia seperti yang dikutip Minggu, (18/5).
Nyoman juga mengaku secara berkala melakukan evaluasi, benchmarking dengan indeks global untuk mendengar pendapat dengan stakeholders agar ketentuan dan peraturan yang diterbitkan BEI senantiasa relevan dengan kondisi pasar yang terus berkembang.
Nyoman menilai kajian aturan ini untuk mendorong terciptanya likuiditas yang menarik bagi investor.
"Konsep perubahan ini akan kami publikasikan dalam waktu dekat untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan, sebelum diajukan kepada otoritas untuk mendapatkan persetujuan," kata dia.
BEI Siapkan Unit Khusus Perusahaan IPO
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
BEI juga memiliki unit kerja khusus yang aktif melakukan pendampingan persiapan bagi perusahaan yang akan melantai (IPO).
Pendampingan ini untuk berbagai macam skala perusahaan yang akan melantai baik swasta, BUMN, maupun anak usaha perusahaan.
Beberapa bentuk pendampingan seperti mentoring persiapan perusahaan yang akan melakukan aksi pencatatan saham hingga mempertemukan antara perusahaan dan stakeholder terkait.
"Dengan tujuan untuk membantu mempermudah akses perusahaan kepada pemangku kepentingan di pasar modal untuk membantu proses persiapan IPO perusahaan.
"Dari sisi pengaturan, Bursa juga telah mengkaji penyesuaian peraturan mengenai jumlah minimal free float pada saat IPO maupun setelah tercatat serta menyesuaikan batasan minimum aspek keuangan," kata dia.
Targetkan Kapitalisasi Pasar Capai Rp 3 Triliun
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
BEI menarget ada 5 perusahaan mercusuar atau lighthouse yang melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sepanjang tahun 2025.
Perusahaan lighthouse yang dimaksud adalah perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun dan free float minimal 15 persen.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan sampai saat in sudah ada 3 perusahaan lighthouse yang IPO dari total target tersebut.
"Kami menetapkan target pada tahun 2025 sebanyak 5 IPO lighthouse dan saat ini telah tercatat 3 IPO lighthouse yakni RATU, CBDK dan YUPI," kata Nyoman dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (18/5).
Sampai 16 Mei 2025, tercatat sudah ada 14 Perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun mencapai Rp 7,01 Triliun. Ke depan terdapat 29 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Dari 29 perusahaan yang ada di pipeline, tercatat ada 3 perusahaan aset skala kecil di bawah Rp 50 miliar, 17 perusahaan aset skala menengah antara Rp 50 sampai Rp 250 miliar, dan 9 perusahaan aset skala besar atau dengan aset di atas Rp 250 miliar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar