Apr 22nd 2025, 12:32, by Ema Fitriyani, kumparanBISNIS
Perwira memeriksa daftar kelengkapan aspek keselamatan di Pusat Pengumpul Produksi (PPP) Pertamina EP Prabumulih Field, Sumatera Selatan. Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Kesempatan bekerja di industri minyak dan gas (migas) bukan hanya untuk laki-laki. Perempuan pun bisa, bahkan di area berisiko seperti rig di tengah laut
Bertepatan dengan Hari Kartini, Pertamina Hulu Energi (PHE) yang merupakan subholding hulu migas PT Pertamina (Persero) punya banyak cerita dari para karyawannya yang bekerja di sektor migas. Perempuan-perempuan tangguh yang memberikan kontribusi nyata untuk ketahanan energi nasional.
Pertama, ada Eva Fadlila. Sebagai perempuan yang berkiprah di industri hulu migas, Country Manager Pertamina Malaysia Exploration and Production (PMEP) ini melihat transformasi budaya kerja dan komitmen perusahaan dalam mengedepankan kesetaraan gender turut mempercepat laju kontribusi perempuan di sektor yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki.
"Saat ini banyak perempuan yang menduduki posisi strategis di industri hulu migas. Saya yakin semakin banyak perempuan yang akan turut andil membentuk masa depan energi Indonesia dan dunia," ujar perempuan yang sudah berkarir di industri hulu migas di dalam negeri maupun internasional sejak awal 2000-an dikutip dari Antara, Selasa (22/4).
Ilustrasi pengeboran PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: PHE
Kisah lain datang dari Difa Kamila Anjani, seorang perempuan muda yang bertugas sebagai Production Well Operator di Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Di industri ini, kata dia, perempuan hadir sebagai kontributor di berbagai bidang, mulai dari teknis hingga manajerial.
"Kita sama berharganya dengan laki-laki, dan banyak perempuan membuktikan bahwa kemampuan, ketangguhan, dan kecermatan merupakan instrumen penting yang membawa perubahan positif di lingkungan kerja. Saya percaya, selama diberi ruang dan kesempatan, perempuan bisa berkontribusi banyak untuk kesuksesan industri ini," tutur Gen Z yang menjadi satu-satunya operator perempuan di PHE ONWJ.
Sementara itu, Ni Made Truly Pinanti Sastra, Senior Production Engineer PT Pertamina Hulu Mahakam Zona 8 Subholding Upstream, mengatakan tingginya angka pekerja perempuan di industri hulu migas Indonesia menjadi bukti adanya sistem ketenagakerjaan Indonesia yang selalu berkembang mengikuti zaman dalam mendukung perempuan berkarier dan memiliki proteksi saat bekerja.
"Ini relevan dengan kehidupan perempuan masa kini untuk membangun personal branding yang juga akan membantu kinerja di dunia profesional," ujar perempuan milenial ini.
Keteladanan RA Kartini
Didominasi oleh kaum pria, bukan berarti kaum perempuan tidak mampu bersaing di industri hulu migas. Nilai-nilai keteladanan dari Raden Ajeng (RA) Kartini sangat relevan dan inspiratif bagi perempuan masa kini, terutama dalam konteks semangat keberanian, daya juang untuk mendapatkan akses pendidikan, kesetaraan dan peran aktif di masyarakat.
Dengan semangat RA Kartini, perempuan Indonesia diharapkan dapat terus memberi warna dan kontribusi nyata dalam setiap sektor pembangunan, termasuk industri energi yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. "Dunia migas membutuhkan perspektif perempuan untuk menjadi lebih adaptif dan berkelanjutan," kata Eva Fadlila.
Hal senada diungkapkan Difa. Dia menilai industri hulu migas memang menantang, tapi juga penuh peluang untuk berkembang dan memberi dampak. "Percayalah pada kemampuan diri, terus belajar, dan berkembang agar bisa memberikan kontribusi terbaik untuk mengoptimalkan kebutuhan energi negeri," terangnya.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina terus menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pekerja perempuan untuk terus berkembang dan berkontribusi di sektor hulu migas. Langkah ini untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs Tujuan 4 (pendidikan berkualitas), 5 (kesetaraan gender), 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) dan 10 (berkurangnya kesenjangan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar