May 3rd 2024, 01:23, by Fadlan Nuril Fahmi, kumparanNEWS
Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini dalam acara Pemeriksaan Kesehatan Jiwa dan Bantuan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Mental di Puskesmas Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Kamis (2/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Mensos Tri Rismaharini mengunjungi Puskesmas Kanatang, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Kamis (2/5). Dalam kunjungannya itu, Risma meminta Pemda Sumba Timur, Dinsos, hingga Disdukcapil mendata seluruh masyarakat yang menyandang disabilitas mental di wilayahnya.
"Taruhlah dia tidak bisa menyebut namanya atau keluarganya tidak bisa nyebut, enggak apa-apa, dikasih nama saja dan kode daerahnya, alamatnya, difoto," kata Risma di acara Pemeriksaan Kesehatan Jiwa dan Bantuan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Mental di Puskesmas Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Kamis (2/5).
Risma menuturkan, Kemensos sudah memiliki sejumlah program yang menyasar penyandang disabilitas. Hanya saja, agar program ini bisa tepat sasaran, mereka butuh data kependudukan yang lengkap.
Ia memberikan contoh program bagi-bagi ayam petelur. Menurut Risma, hasil dari ayam petelur itu bisa dijadikan konsumsi penyandang disabilitas dan keluarganya, bahkan bisa jadi modal usaha jika telurnya dijual ke masyarakat sekitar.
"Tapi setiap hari bisa dimakan untuk keluarganya terutama untuk ibu-ibu yang sedang hamil itu bisa dibantu, supaya gizi terpenuhi," ucap Risma.
Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini dalam acara Pemeriksaan Kesehatan Jiwa dan Bantuan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Mental di Puskesmas Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Kamis (2/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Risma juga meminta agar ada pelayanan kesehatan jangka panjang bagi penyandang disabilitas dan ODGJ. Ia mengingatkan, pelayanan ini bukan berarti dengan membuat mereka terus minum obat setiap hari, melainkan dengan membantu penyandang ODGJ mengecek kesehatannya secara rutin.
"Saya belajar ini, karena kalau setiap hari minum obat itu agak berat memang keluarganya. Jadi saya nanti mohon bantuan dari puskesmas dia ditangani dengan cara long acting jadi 1 bulan sekali disuntik kemudian dia baru kembali lagi 1 bulan. Karena kalau perawatannya setiap hari pasti berat," jelas dia.
Biasanya, kata Risma, penyandang disabilitas mental harus minum obat secara rutin dan tidak boleh terlambat. Hal inilah yang menurutnya kerap memberatkan pihak keluarga jika obat yang diberikan setiap hari.
"Tapi sekarang ada cara baru, metode baru di mana dia hanya sebulan sekali perlu. Makanya nanti setelah itu saya akan diskusi dengan Pak Bupati dan dokter-dokter ini untuk bagaimana seluruh puskesmas di Kabupaten Sumba Timur ini bisa menangani untuk long acting atau penanganan yang tiap bulan itu, bukan setiap hari seperti itu," ungkap Risma.
Cara-cara ini pun menjadi solusi bagi masyarakat Sumba Timur yang juga menyampaikan aspirasi dan keluhannya dalam sesi diskusi tersebut.
Risma menyatakan akan melakukan asesmen terhadap keluhan dari tiap-tiap masyarakat yang sudah menyampaikan apa yang dibutuhkan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar