Jan 2nd 2023, 16:16, by Ema Fitriyani, kumparanBISNIS
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 11,16 persen menjadi Rp 6.347 triliun per November 2022. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebutkan tren ini disebabkan kredit investasi yang berkontribusi 13,15 persen selama setahun kemarin.
"Utamanya ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 13,15 persen secara tahunan. Sementara kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh 11,27 persen dan 9,10 persen secara tahunan," ujar Dian secara daring pada Konferensi Pers Awal Tahun OJK, Senin (2/1).
Dian juga melaporkan himpunan dana pihak ketiga tumbuh senilai 8,78 persen secara tahunan menjadi Rp 7.974 triliun. Utamanya didorong oleh tabungan dan deposito, dengan loan to deposit ratio (LDR) perbankan di level 79,6 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Foto: ppatk.go.id
"Likuiditas industri perbankan pada November 2022 dalam level memadai dengan rasio-rasio likuiditas yang terjaga. Rasio alat likuid terhadap noncore deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing 134,97 persen dan 30,42 persen. Jauh di atas threshold 50 persen dan 10 persen," tutur Dian.
Lebih lanjut, Dian mengatakan kredit perbankan risikonya terus turun, terlihat dari posisi rasio pembiayaan bermasalah atau nonperforming loan (NPL) nett di level 0,75 persen dan NPL gross di posisi 2,65 persen per November 2022. Sedangkan pada Oktober lalu, NPL net di level 0,78 persen dan NPL gross di posisi 2,72 persen.
"Restrukturisasi penurunan nilai Rp 13,27 triliun pada November 2022 menjadi Rp 499,87 triliun dengan jumlah restrukturisasi debitur sebanyak 2,40 juta nasabah. Sedangkan pada Oktober lalu masih 2,53 juta debitur restrukturisasi," paparnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar