Search This Blog

Malapetaka Kerusakan Iklim Baru Saja Dimulai, Emisi di Bumi Melonjak Drastis

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Malapetaka Kerusakan Iklim Baru Saja Dimulai, Emisi di Bumi Melonjak Drastis
Jan 2nd 2023, 15:15, by Habib Allbi Ferdian, kumparanSAINS

Malapetaka Kerusakan Iklim Baru Saja Dimulai, Emisi di Bumi Melonjak Drastis
Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Shutter Stock

Sudah sejak lama Bumi kita sedang tidak-tidak baik saja. Kerusakan iklim membawa makhluk hidup di seluruh dunia di ambang kepunahan. Tahun 2022, kata ilmuwan, emisi karbon dari bahan bakar fosil akan mencapai rekor tertinggi dan akan semakin parah di tahun-tahun berikutnya.

Robert Vautard, ilmuwan iklim dan kepala Frence's Pierre-Simon Laplace Institute, mengatakan kepada AFP bahwa tahun 2022 menjadi salah satu tahun terpanas dan terdingin. Ini terlihat dari bagaimana danau di seluruh Eropa dan Asia menguap dan mengering. Bencana kekeringan ini membawa kesengsaraan bagi jutaan orang di Tandruk Afrika, dan banjir parah di Pakistan.

Sayangnya, ini baru permulaan. - Robert Vautard, ilmuwan iklim dan kepala Frence's Pierre-Simon Laplace Institute -

Kembali ke belakang selama 12 bulan terakhir, tanda-tanda kerusakan iklim sudah semakin jelas. Beberapa ilmuwan iklim percaya bahwa umat manusia sudah terlambat untuk menyelamatkan diri dari bencana.

Pada Februari 2022, misalnya, sebuah laporan dari Panel on Climate Change tentang perubahan iklim menunjukkan bahwa 42 persen populasi dunia tinggal di daerah sangat rentan terdampak perubahan iklim. Menanggapi laporan ini, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres, mengatakan saat ini Bumi ditakdirkan untuk menjadi tempat penderitaan.

Malapetaka Kerusakan Iklim Baru Saja Dimulai, Emisi di Bumi Melonjak Drastis (1)
Buney Aayow Ibrahim, seorang wanita Somalia yang terkena dampak kekeringan yang memburuk menggendong anaknya di kamp Alla Futo, di pinggiran Mogadishu, Somalia, Jumat (23/9/2022). Foto: Feisal Omar/Reuters

Bulan Mei 2022, musim panas di belahan Bumi utara memecahkan rekor. Ini memperjelas bahwa Perjanjian Paris harus segera diterapkan oleh negara-negara di seluruh dunia. Dalam laporan lain disebutkan bahwa Gambia adalah satu-satunya negara yang saat ini berpegang teguh pada Perjanjian Paris.

Pada COP27 di Mesir di November 2022, PBB mempresentasikan temuannya. Mereka mengatakan tidak ada cara yang bisa membendung pemanasan global. Sedangkan disampaikan Global Carbon Project, emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil akan meningkat satu persen tahun ini, mencapai rekor tertinggi 36,6 miliar ton.

Agar kenaikan suhu 1,5 derajat tidak terjadi, emisi global harus turun 45 persen pada dekade sekarang, mencapai nol emisi pada tahun 2050.

Jika tren ini berlanjut, PBB memperkirakan dunia akan memanas 2,4 hingga 2,6 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini. Dan jika kenaikan ini terjadi, bencana iklim tahun 2022 akan diingat di benak manusia sebagai bencana masa lalu yang indah.

Awal bulan ini, 190 negara menandatangani sebuah rencana yang disebut Global Biodiversity Framework (GBF), yang bertujuan untuk melindungi 30 persen ekosistem darat dan laut pada 2030.

Media files:
icaerpldxmed2utabrdl.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar