Hi!Pontianak - Menanggapi keresahan masyarakat Kabupaten Kubu Raya akibat minimnya penerangan di Jalan Arteri Supadio, tepatnya sekitar kawasan Bundaran Supadio, membuat Bupati Sujiwo berinisiatif. Beberap penerangan serta pengecatan pun dilakukan.
Namun pengerjaan tersebut dipersoalkan dan diberhentikan secara paksa oleh seorang oknum yang dari PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Supadio Pontianak.
"Berkaitan dengan masalah yang lagi viral, saya keberatan karena kita menjawab persoalan masyarakat (butuh penerangan). Selama ini masyarakat sering was-was (terjadi tindak kejahatan karena minim penerangan)," ujar Bupati Kubu Raya, Sujiwo.
"Pernah dengar kan di Ayani 2 sering terjadi begal dulu, karena apa? Karena gelap. Terutama bagian yang saya terangkan itu dengan lampu hias dan penerangan jalan itu antara tugu pesawat hingga ke bundaran," sambungnya.
Pihak yang mempersoalkan penerangan yang dilakukan Pemkab Kubu Raya itu bahkan menanyakan beberapa hal, seperti sumber aliran lampu dan lain sebagainya. Sujiwo pun menyangkan hal itu.
"Kemarin Kadis PU kami ditegurnya, ditanya ini aliarannya dari mana lampunya. Saya pikir kan sama-sama pengguna pelat merah, sama-sama abdi negara, tau oh ini pemerintah bukan dengan cara-cara mengintrogasi seperti itu. Itu yang buat saya kecewa banget," ungkap Sujiwo.
"Begitu juga kita ngecat ya, itu kan sudah kusam banget tulisan Tugu Supadio itu. Begitu juga orang lagi kerja langsung disuruh setop gitu. Harusnya kan tidak seperti itu, ada etika-etikanya," tambahnya.
Sujiwo mengaku pihaknya menerima apapun dari Angkasa Pura. Namun ia meminta penyampaikan keberatan itu dilakukan sesuai prosedur. Bukan hanya dilakukan secara lisan dan sepihak.
"Kalaupun ada mekanisme ataupun prosedur sampaikan kepada kita (oh tolong Pak disuratin dulu), kita pasti lakukan. Jangan main setop seperti itu. Kecuali kita sedang memegang linggis, terus merusak boleh dimarah. Maka disaat disuruh (pekerjaan) setop saya bilang jalanin saja," tegasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar